Kupang, Avis News — Tugas negara membawa mereka ke lapangan. Namun perjalanan itu berakhir tragis.
Tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, tewas dalam penembakan di wilayah Distrik Muliama, Rabu, 9 September 2026. Ketiganya adalah Willi Mbuik, Alfonsius Albinus Meha, dan Aprida Rapi.
Ketiga korban merupakan bagian dari rombongan pegawai Dinas Pertanian yang sedang menjalankan kegiatan di lapangan. Berdasarkan keterangan aparat, rombongan tersebut sebelumnya melakukan kegiatan terkait bantuan pangan dan program pertanian sebelum bergerak kembali menuju Wamena.
Penembakan terjadi sekitar pukul 15.53 WIT di wilayah Muliama.
Aparat menyebut ketiga korban diduga ditembak oleh kelompok kriminal bersenjata. Namun, hingga kini identitas pasti kelompok maupun pelaku masih dalam proses penyelidikan.
TIGA NYAWA HILANG SAAT MENJALANKAN TUGAS
Korban pertama, Willi Mbuik, merupakan pegawai/CPNS Dinas Pertanian Jayawijaya. Ia sempat mendapatkan perawatan setelah mengalami luka tembak sebelum akhirnya meninggal dunia.
Dua korban lainnya adalah drh. Alfonsius Albinus Meha, dokter hewan pada Dinas Pertanian Jayawijaya, dan Aprida Rapi, Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Jayawijaya. Keduanya dilaporkan meninggal setelah mengalami luka tembak dalam insiden tersebut.
Jenazah ketiga korban kemudian dievakuasi ke RSUD Wamena.
Kabar duka ini juga menjadi perhatian masyarakat Nusa Tenggara Timur. Willi Mbuik disebut berasal dari Kupang, NTT, dan jenazahnya telah dievakuasi dari Wamena menuju Jayapura untuk selanjutnya diterbangkan ke Kupang.
Bagi keluarga, kepulangan itu bukan lagi tentang menyambut seorang anak, saudara, atau kerabat yang pulang dari tugas.
Tetapi menyambut jenazah.
PAPUA KEMBALI DIHADAPKAN PADA PERSOALAN KESELAMATAN SIPIL
Peristiwa ini menyisakan persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar siapa pelakunya.
Bagaimana memastikan aparatur sipil yang bekerja di wilayah rawan tetap bisa menjalankan pelayanan kepada masyarakat tanpa mempertaruhkan nyawa?
Pertanian, kesehatan, pendidikan dan pelayanan pemerintahan membutuhkan kehadiran negara sampai ke pelosok. Tetapi kehadiran itu tidak boleh berarti membiarkan pegawai pemerintah bekerja dalam kondisi keamanan yang tidak terjamin.
Kementerian HAM mengecam penembakan tersebut dan meminta kasus diusut tuntas. Pemerintah juga didorong memastikan konflik bersenjata tidak kembali menempatkan warga sipil sebagai korban.
Ini penting.
Sebab mereka yang menjadi korban bukan sedang berada di medan perang. Mereka adalah pegawai yang menjalankan pekerjaan pelayanan kepada masyarakat.
HUKUM HARUS MENJAWAB, KEAMANAN HARUS DIPULIHKAN
Aparat kini melakukan penyelidikan dan pengejaran terhadap pelaku. Kepala Operasi Damai Cartenz 2026 menyatakan proses penyelidikan dilakukan untuk mengungkap kronologi, mengidentifikasi pelaku dan memastikan mereka mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai hukum.
AVIS News berpandangan, tragedi ini tidak boleh berhenti pada berita tentang tiga orang yang meninggal.
Harus ada evaluasi serius terhadap sistem pengamanan perjalanan dinas di wilayah rawan. Harus ada perlindungan yang lebih baik bagi pegawai yang bekerja di lapangan. Dan yang paling penting, masyarakat sipil tidak boleh terus menjadi korban dari kekerasan bersenjata.
Papua membutuhkan pembangunan. Papua membutuhkan pelayanan. Dan semua itu membutuhkan satu hal yang paling mendasar: rasa aman.
Tiga nyawa telah hilang.
Jangan sampai keselamatan warga berikutnya kembali menjadi harga yang harus dibayar untuk sebuah tugas negara.