Kupang, Avis News — Suara gemuruh di Selat Sunda akhirnya mereda, namun alarm kewaspadaan di pesisir Banten dan Lampung sama sekali belum boleh dimatikan.

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang berada di wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, mencatat babak baru setelah erupsi menerus yang berlangsung tanpa henti selama 25 jam resmi berakhir. Fase letusan panjang tersebut tercatat mulai menampakkan titik akhir sejak Minggu (6/9/2026) pukul 00.04 WIB, menyusul rangkaian erupsi intensif yang dimulai sejak Jumat (4/9/2026) malam pukul 23.07 WIB.

Kendati fase letusan menerus telah usai, gunung api bawah laut tersebut langsung mengubah karakternya.

Badan Geologi melaporkan bahwa Anak Krakatau kini memasuki fase letusan strombolian. Tercatat ada tiga kali letusan berkarakteristik strombolian yang terjadi pasca-berhentinya erupsi menerus tersebut. Secara ilmiah, letusan strombolian merupakan jenis aktivitas vulkanik dengan karakteristik ledakan yang relatif ringan namun memiliki siklus yang bisa berlangsung lama karena sistem internalnya mampu mengatur ulang dirinya secara berulang.

Namun, meredanya durasi panjang bukan berarti status bahaya telah dicabut.

Hingga saat ini, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih ditetapkan pada Level III atau Siaga. Badan Geologi mengingatkan bahwa potensi letusan susulan masih mengintai dalam beberapa periode waktu ke depan. Ancaman utama bagi keselamatan warga sekitar bersumber dari lontaran batu pijar, potensi hujan abu lebat, hingga risiko leleran lava jika erupsi menerus kembali berulang.

KESIAGAAN DAN KESELAMATAN WARGA ADALAH UTAMA

Merespons dinamika tersebut, otoritas kebencanaan mengeluarkan instruksi tegas demi keselamatan masyarakat luas.

Seluruh warga, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki dilarang keras mendekati serta melakukan aktivitas apa pun di dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas kawah Gunung Anak Krakatau. Warga yang wilayahnya terdampak paparan abu vulkanik diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan serta mengenakan masker guna melindungi saluran pernapasan.

Selain itu, masyarakat pesisir di wilayah Provinsi Banten dan Lampung diminta tetap tenang, tidak mudah terpancing oleh berita bohong atau isu liar mengenai potensi tsunami susulan, serta dapat melanjutkan aktivitas harian dengan senantiasa berpedoman pada arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Bagi masyarakat yang membutuhkan informasi resmi dan terkini seputar aktivitas vulkanik, koordinasi dapat dilakukan melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung atau langsung menghubungi Pos Pengamatan Gunung Krakatau di Pasauran, Banten.

Avis News menegaskan bahwa mitigasi bencana bukan sekadar mencatat angka durasi erupsi atau perubahan tipe letusan. Keselamatan manusia, ketenangan mental warga pesisir, serta kecepatan disepakatinya informasi yang akurat dari instansi berwenang adalah pilar terpenting dalam menghadapi setiap amukan alam.

Gunung bisa beristirahat, namun kewaspadaan kita tidak boleh ikut tidur.