Kupang, Avis News — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (17/9/2026) pagi resmi dibuka di zona hijau. IHSG menguat sebesar 0,28 persen atau naik 18,18 poin ke level 6.455,03, bangkit dari tren tekanan yang dialami dalam beberapa sesi perdagangan sebelumnya.
PERGERAKAN AWAL DAN INDEKS SEKTORAL
Aktivitas perdagangan di awal sesi terpantau cukup aktif. Semenit setelah bel pembukaan, IHSG bahkan melanjutkan penguatannya hingga menyentuh level 6.476 dengan mencatatkan ratusan saham di zona hijau.
Hampir seluruh indeks sektoral kompak bergerak menguat, meliputi sektor keuangan, bahan baku, transportasi, energi, infrastruktur, properti, industri, teknologi, serta konsumer siklikal dan non-siklikal. Hanya sektor kesehatan yang tercatat berada di zona merah pada awal perdagangan.
Peningkatan juga terlihat pada sejumlah indeks utama:
- LQ45: Menguat 0,66 persen ke level 651
- JII: Menguat 0,51 persen ke level 394
- IDX30: Menguat 0,70 persen ke level 361
DERETAN TOP GAINERS DAN LOSERS
Pada awal sesi perdagangan hari ini, beberapa saham yang memimpin jajaran top gainers di antaranya PT Arkayana Lestari Grup Tbk (AYLS) yang melesat 27,21 persen, diikuti Reksa Dana Indeks Batavia IDX30 ETF (XBID) naik 24,04 persen, dan Reksa Dana Pinnacle Core High Dividend ETF (XPDV) yang menguat 24 persen.
Sementara itu, jajaran top losers dihuni oleh Reksa Dana Indeks Simas ETF IDX30 (XSBC) yang turun 14,52 persen, PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR) melemah 8,30 persen, serta PT Satira Antaran Prima Tbk (SAPX) turun 6,56 persen.
DINAMIKA PASAR REGIONAL DAN KONDISI KURS
Pergerakan positif di bursa domestik ini terjadi di tengah pasar Asia yang bergerak bervariatif (mixed). Indeks Nikkei 225 Jepang menguat 1,40 persen dan Straits Times Singapura naik 0,39 persen, sementara Hang Seng Hong Kong terkoreksi 1,33 persen dan SSE Composite China melemah 0,38 persen.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan pagi ini terpantau bergerak melemah di kisaran level Rp17.710 hingga Rp17.762 per dolar AS, seiring sentimen penguatan dolar secara global di tengah antisipasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed).
Sumber : CNBC Indonesia, Kumparan, IDX Channel, Berita Satu.