Kupang, Avis News — Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta secara resmi menyampaikan hasil pemeriksaan medis menyeluruh terhadap dua siswi asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang sebelumnya dirujuk ke Jakarta akibat dugaan kasus keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Berdasarkan evaluasi tim dokter spesialis gabungan, dipastikan bahwa pasien tidak mengalami gangguan fungsi otak maupun hilang ingatan seperti yang sempat dikhawatirkan.
HASIL PEMERIKSAAN NEUROLOGI DAN PSIKIATRI
Sebelumnya, kasus salah satu siswi bernama Febiona Purba (16) sempat menyita perhatian publik hingga mendapat atensi langsung dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, usai dilaporkan mengalami dugaan hilang ingatan hingga gangguan psikotik pasca-insiden keracunan.
Atas instruksi khusus, kedua pasien diberangkatkan dari Sumatera Utara pada Sabtu (12/9/2026) untuk menjalani penanganan medis tingkat lanjut di RSCM di bawah koordinasi tim ahli yang terdiri dari dokter spesialis anak, neurologi, psikiatri anak, hingga penyakit dalam.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Neurologi Anak RSCM, Prof. Dr. dr. Setyo Handryastuti, menegaskan bahwa hasil pemeriksaan fisik, wawancara klinis, hingga pemeriksaan penunjang berupa rekam gelombang otak (elektroensefalografi / EEG) menunjukkan kondisi yang baik.
“Yang jelas pada saat saya periksa saat ini, ananda ingatannya sangat baik, ya. Memori jangka pendek maupun jangka panjangnya. Dan juga pemeriksaan elektroensefalografi juga tidak menunjukkan gangguan apa pun,” ujar Prof. Handry dalam konferensi pers di RSCM.
Lebih lanjut, Prof. Handry menjelaskan bahwa diagnosis neurologis pasien mengarah pada kejadian paroksismal non-epileptiform event—yakni serangan tiba-tiba yang bukan merupakan kejang epilepsi dan tidak bersumber dari kerusakan organ otak.
Sementara itu, terkait dugaan gangguan psikotik yang sempat dicurigai membuat pasien kesulitan membedakan realita, Konsultan Psikiatri Anak dan Remaja RSCM, Prof. Dr. dr. Tjhin Wiguna, menyatakan bahwa hal tersebut tidak terbukti. Berdasarkan penelusuran klinis, gejala yang dialami murni merupakan serangan panik (panic attack) akibat tekanan mental yang besar pasca-insiden, dengan orientasi kognitif pasien yang kini sudah sangat stabil.
FOKUS PEMULIHAN DAN RENCANA PULANG
Direktur Medik dan Keperawatan RSCM, Dr. Renan Sukmawan, menyampaikan bahwa sejak kedatangan di Jakarta, kondisi kedua pasien termasuk satu pasien lain berinisial Agnesia berada dalam keadaan stabil dan tidak memerlukan perawatan di ruang intensif (ICU).
Saat ini, tim medis terus berfokus pada tahapan pemulihan lanjutan agar kedua anak tersebut segera dapat kembali ke kampung halaman, menjalani rawat jalan, dan kembali bersekolah seperti sedia kala dengan ceria.
Sumber : Tribun News, Detik Health, Kompas, Liputan6.