Kupang, Avis News — Nilai tukar rupiah melemah hingga Rp18.066 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (9/7/2026) karena meningkatnya kekhawatiran pasar global menyusul memanasnya konflik di Timur Tengah serta sentimen dari kondisi fiskal Indonesia.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan pelemahan rupiah terjadi seiring investor mengalihkan dana ke aset yang dinilai lebih aman di tengah meningkatnya risiko geopolitik. Di dalam negeri, pasar juga merespons realisasi defisit APBN semester I 2026 yang mencapai Rp196,5 triliun.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kehidupan masyarakat melalui kenaikan biaya impor, harga energi, hingga sejumlah barang yang menggunakan bahan baku dari luar negeri. Meski begitu, besarnya dampak masih bergantung pada langkah pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Di saat yang sama, pasar saham Indonesia dan sejumlah aset investasi juga mengalami tekanan akibat meningkatnya sikap hati-hati investor terhadap perkembangan situasi global.
Masyarakat diimbau tetap tenang, tidak terburu-buru mengambil keputusan keuangan, serta terus mengikuti informasi dari sumber resmi. Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan mampu menjaga stabilitas nilai tukar dan daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.