Kupang, Avis News — Pagi di Lembata kembali dimulai dengan suara dari perut bumi.

Gunung Ili Lewotolok kembali erupsi pada Senin (7/9/2026). Bukan sekali. Dalam waktu kurang dari satu jam, gunung api di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, itu mengalami dua kali erupsi.

Erupsi pertama terjadi sekitar pukul 05.41 WITA dengan kolom abu mencapai sekitar 600 meter di atas puncak. Sekitar 34 menit kemudian, erupsi kembali terjadi.

Angka 600 meter mungkin hanya terdengar seperti angka bagi orang yang melihatnya dari jauh.

Tetapi bagi warga yang tinggal di kaki gunung, aktivitas Ili Lewotolok adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Ada rumah yang harus dijaga. Ada kebun yang harus dirawat. Ada anak-anak yang harus bersekolah. Ada warga yang tetap harus bekerja dan mencari nafkah.

Itulah sebabnya erupsi tidak cukup diberitakan sebagai tontonan alam.

Yang paling penting adalah keselamatan warga.

Aktivitas Ili Lewotolok memang bukan sesuatu yang baru. Data pengamatan pada 1–5 September 2026 bahkan mencatat 1.873 kali gempa letusan atau erupsi. Tinggi letusan selama periode tersebut berkisar 200 hingga 700 meter dari puncak.

Pada Minggu (6/9), aktivitas gunung juga tercatat cukup tinggi. Salah satu erupsi menghasilkan kolom abu sekitar 600 meter dan disertai dentuman. Saat ini status Ili Lewotolok masih Level II atau Waspada.

Masyarakat, pendaki dan wisatawan diminta tidak memasuki kawasan dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas, serta radius 3 kilometer pada sektor selatan dan tenggara. Warga juga diminta mewaspadai potensi guguran lava dan awan panas.

JANGAN MENUNGGU PANIK BARU BERTINDAK

Dalam situasi seperti ini, pemerintah tidak cukup hanya mengeluarkan imbauan.

Informasi harus sampai ke warga dengan bahasa yang sederhana. Jalur komunikasi harus jelas. Aparat di lapangan harus tahu apa yang dilakukan jika aktivitas gunung meningkat. Dan masyarakat harus tahu kapan harus bertahan di rumah, kapan harus menjauh, serta ke mana harus menyelamatkan diri.

Abu vulkanik juga bukan persoalan sepele. Warga di sekitar gunung perlu menggunakan masker dan pelindung mata serta kulit. Tempat penampungan air bersih juga perlu ditutup agar tidak tercemar abu.

AVIS News melihat satu hal yang tidak boleh hilang dalam pemberitaan bencana: manusia harus tetap menjadi pusat perhatian.

Jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton dari berita tentang gunungnya sendiri.

Sebab ketika gunung berbicara, yang dibutuhkan warga bukan kepanikan. Yang dibutuhkan adalah informasi yang cepat, pemerintah yang siap, dan perlindungan yang benar-benar hadir di lapangan.

Gunung bisa berubah sewaktu-waktu.

Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat juga tidak boleh menunggu keadaan menjadi lebih buruk.