Kupang, Avis News — Arus informasi di media sosial kerap kali melahirkan berbagai tren baru yang datang dan pergi dalam waktu yang sangat singkat. Namun, di tengah gempuran tren yang serba cepat tersebut, mulai muncul pergeseran gaya hidup di kalangan anak muda.

Jika sebelumnya fenomena FOMO (Fear of Missing Out) mendominasi, kini konsep JOMO (Joy of Missing Out) justru semakin menarik perhatian.

Mengenal JOMO dan Perbedaannya dengan FOMO

Secara sederhana, FOMO menggambarkan rasa takut atau cemas tertinggal dari pengalaman, aktivitas, atau informasi yang sedang dialami oleh orang lain. Kondisi ini sering kali mendorong seseorang untuk terus terhubung dan mengikuti apa pun yang sedang viral di media sosial.

Sebaliknya, JOMO justru menjadi kebalikannya. Konsep ini menggambarkan perasaan nyaman dan bahagia ketika seseorang memilih untuk tidak ikut serta dalam suatu aktivitas atau tren tertentu.

Orang yang menerapkan JOMO mampu berkata bahwa tidak apa-apa jika dirinya tidak ikut tanpa harus merasa khawatir telah melewatkan sesuatu yang penting.

Mengapa JOMO Semakin Relevan di Era Digital?

Intensitas penggunaan media sosial membuat seseorang sangat mudah melihat berbagai unggahan orang lain, mulai dari perjalanan liburan, tempat makan baru, konser, hingga pencapaian hidup. Jika terus menerus dibandingkan dengan kehidupan sendiri, hal tersebut dapat memicu tekanan mental.

Sebuah penelitian mengenai Generasi Z menemukan adanya korelasi positif antara kebiasaan membandingkan diri di media sosial dengan tingkat FOMO yang dialami seseorang. Semakin sering seseorang membandingkan hidupnya dengan orang lain, semakin tinggi pula kecemasan yang dirasakan.

Oleh karena itu, memilih untuk sesekali tidak mengikuti arus tren menjadi cara yang efektif untuk mengurangi tekanan psikologis tersebut.

Menentukan Prioritas Hidup Tanpa Rasa Bersalah

Penerapan JOMO bukan berarti seseorang menjadi anti-sosial atau sama sekali tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Konsep ini lebih berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam menyaring dan menentukan aktivitas mana yang benar-benar ingin dilakukan dan mana yang boleh dilewatkan.

Ketika melihat orang lain menghadiri suatu acara, seseorang dengan pola pikir JOMO dapat menyikapinya secara santai dengan berpikir bahwa acara tersebut mungkin menarik, tetapi ia sedang ingin beristirahat di rumah.

Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk selalu berada di garis depan setiap ada tren baru. Ketenangan mental jauh lebih berharga daripada keharusan untuk selalu tampil mengikuti keinginan orang banyak.

Karena hidup yang bahagia tidak diukur dari seberapa banyak hal yang kita ikuti, melainkan dari seberapa damai kita menikmati pilihan hidup kita sendiri.