Kupang, Avis News — Tepuk tangan dan suasana haru menyambut kepulangan Kontingen Jambore Daerah X dan Jambore Nasional XII Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Kupang.

Sebanyak 48 peserta kembali ke Kota Kupang setelah mengikuti rangkaian Jambore Nasional XII di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur. Mereka tidak hanya pulang membawa cerita perjalanan, tetapi juga pengalaman tentang kemandirian, kedisiplinan, kerja sama dan keberagaman.

Penyambutan berlangsung di Hotel Kristal Kupang, Selasa malam, 1 September 2026. Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo hadir langsung menyambut para peserta, bahkan menyempatkan diri makan malam bersama mereka.

Salah seorang peserta, Gisela Agustav, menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Kota Kupang sejak persiapan hingga kepulangan.

Bagi Gisela, pengalaman mengikuti Jambore bukan sekadar perjalanan keluar daerah. Ia bersama peserta lainnya belajar hidup lebih mandiri, disiplin, bekerja sama dan beradaptasi dengan peserta dari berbagai daerah.

Bagi orang tua, kepulangan anak-anak dengan selamat juga menjadi kebahagiaan tersendiri. Namun yang lebih penting, mereka berharap pengalaman tersebut benar-benar membentuk karakter anak.

Dan di sinilah pesan penting Wali Kota Christian Widodo.

Jangan sampai Jambore selesai, tetapi nilai-nilai yang dipelajari ikut selesai.

Christian meminta para peserta membawa pulang ketangguhan, disiplin, mental dan semangat kerja sama untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelumnya, dukungan Pemkot Kupang terhadap kontingen juga terlihat sejak proses seleksi. Dari kuota awal 32 peserta, pemerintah akhirnya memberangkatkan seluruh 48 anak yang mengikuti seleksi agar mereka mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang.

Dukungan tersebut juga diwujudkan melalui anggaran kepramukaan sebesar Rp400 juta pada 2026. Anggaran itu terdiri dari Rp150 juta untuk Jambore Daerah, Rp150 juta untuk Jambore Nasional dan Rp100 juta untuk operasional Kwarcab.

Namun bagi AVIS NEWS, ukuran keberhasilan dukungan terhadap Pramuka tidak berhenti pada keberangkatan dan kepulangan peserta.

Pertanyaan berikutnya justru lebih penting:

Apa yang dilakukan setelah mereka pulang?

Jika disiplin hanya tinggal cerita, kemandirian hanya menjadi kenangan, dan semangat gotong royong hanya berhenti di perkemahan, maka makna Jambore akan cepat hilang.

Karena itu, pengalaman 48 peserta ini seharusnya menjadi investasi karakter bagi Kota Kupang.

Apalagi Pemerintah Kota Kupang juga merencanakan pembenahan Bumi Perkemahan Fatubena pada 2027, termasuk fasilitas dasar seperti air, toilet, pagar dan penataan kawasan. Kawasan tersebut diharapkan bukan hanya menjadi tempat kegiatan Pramuka, tetapi juga dapat dimanfaatkan masyarakat secara produktif.

Pramuka bukan hanya soal seragam, tenda dan kegiatan perkemahan.

Pramuka adalah tentang bagaimana anak-anak belajar bertanggung jawab ketika tidak ada orang tua yang mengawasi, belajar bekerja sama ketika kepentingan berbeda, dan tetap berdiri ketika menghadapi kesulitan.

Karena itu, kepulangan 48 peserta dari Jambore Nasional XII seharusnya bukan menjadi akhir perjalanan.

Justru dari Kota Kupang, perjalanan pembentukan karakter itu dimulai kembali.