Kupang, Avis News — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia akan mulai datang secara bertahap pada periode Oktober hingga November 2026 mendatang akibat pergeseran angin monsun serta melemahnya dominasi suhu panas musim kemarau. Prakiraan cuaca berkala ini diterbitkan sebagai peringatan dini (early warning) bagi pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta masyarakat luas agar segera menyiapkan langkah mitigasi guna mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi.
Berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer terkini yang dilakukan oleh BMKG, awal musim hujan diproyeksikan tidak akan terjadi secara serentak di seluruh pelosok negeri. Wilayah bagian barat Indonesia, seperti pesisir barat Pulau Sumatra, sebagian besar Jawa, dan Kalimantan Barat, diprediksi menjadi area pertama yang akan memasuki masa transisi atau pancaroba lebih awal. Sementara itu, wilayah Indonesia bagian timur, termasuk Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Papua, diperkirakan baru akan merasakan guyuran hujan secara merata menjelang akhir November hingga memasuki bulan Desember.
BMKG menjelaskan bahwa perbedaan dimulainya musim hujan di setiap zonasi cuaca ini sangat dipengaruhi oleh kondisi suhu permukaan laut di perairan nusantara serta pergerakan massa udara basah. Memasuki fase peralihan musim tersebut, BMKG turut mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang rawan muncul selama periode pancaroba. Fenomena seperti hujan lebat berdurasi singkat yang disertai kilat, angin kencang, hingga potensi angin puting beliung kerap menjadi ancaman nyata sebelum wilayah Indonesia sepenuhnya memasuki puncak musim hujan.
Sektor pertanian dan pengelolaan sumber daya air diimbau untuk dapat memanfaatkan sisa periode kemarau ini dengan mematangkan tata kelola distribusi air serta penyesuaian jadwal tanam. Di sisi lain, pemerintah daerah juga diminta segera mengambil langkah konkret di lapangan, mulai dari pembersihan drainase perkotaan, pengerukan sedimentasi sungai, perbaikan tanggul penahan, hingga pemangkasan pohon-pohon tua yang rawan tumbang di sepanjang jalan protokol.
Langkah antisipasi dini ini dinilai sangat vital guna menekan risiko banjir, tanah longsor, dan genangan air yang kerap melumpuhkan aktivitas ekonomi serta transportasi di kawasan padat penduduk. BMKG juga mengimbau warga yang bermukim di kawasan lereng perbukitan dan bantaran sungai untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca secara berkala melalui saluran resmi BMKG agar senantiasa siaga menghadapi perubahan iklim menjelang akhir tahun 2026.