Kupang, Avis News — Di saat ribuan masyarakat Kabupaten Sikka masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup, gaya hidup mewah yang ditampilkan keluarga pejabat daerah kembali menjadi sorotan publik.

Data pemerintah mencatat, masih ada sekitar 36 ribu warga Sikka yang hidup dalam kondisi kemiskinan. Mereka masih berhadapan dengan persoalan ekonomi, sulitnya lapangan kerja, hingga kebutuhan dasar yang belum sepenuhnya terpenuhi.

Namun, di tengah kondisi tersebut, unggahan dan aktivitas yang memperlihatkan kemewahan dari keluarga orang nomor satu di Kabupaten Sikka menuai perhatian masyarakat.

Bagi sebagian warga, persoalan ini bukan sekadar soal pakaian, barang mahal, atau gaya hidup pribadi. Tetapi tentang rasa kepekaan seorang pemimpin dan keluarganya terhadap kondisi rakyat yang masih berjuang.

Masyarakat tentu tidak melarang siapa pun menikmati hasil kerja dan kehidupannya. Tetapi ketika seseorang berada dekat dengan pusat kekuasaan, setiap simbol dan tindakan bisa menjadi pesan yang dibaca publik.

Sebab pemimpin tidak hanya dinilai dari program yang dibuat, tetapi juga dari sikap yang ditunjukkan.

Kemiskinan bukan hanya angka dalam laporan pemerintah. Di balik angka 36 ribu warga miskin, ada keluarga yang harus menghitung pengeluaran setiap hari, ada anak yang membutuhkan pendidikan lebih baik, dan ada masyarakat yang masih berharap hadirnya perhatian pemerintah.

Di tengah kondisi itu, pejabat publik dituntut menghadirkan keteladanan. Bukan berarti harus hidup serba kekurangan, tetapi menunjukkan empati dan memahami bahwa masih banyak masyarakat yang belum seberuntung mereka.

Karena jabatan publik bukan hanya soal kekuasaan, tetapi juga tentang tanggung jawab moral untuk berdiri bersama rakyat.