Kupang, Avis News — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis pemutakhiran data yang mencatat sebanyak 3.394 kali gempa susulan serta total korban meninggal dunia mencapai 71 jiwa pascagempa utama M 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis, 20 Agustus 2026. Pemutakhiran informasi seismik dan data korban tersebut disampaikan oleh instansi berwenang guna memetakan tingkat kerentanan wilayah secara akurat, memastikan kecepatan tanggap darurat bagi puluhan ribu pengungsi, serta meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi bahaya susulan.

Berdasarkan laporan resmi instansi terkait, jumlah korban jiwa mengalami penambahan setelah tim SAR gabungan mendata korban meninggal di wilayah Kabupaten Nagekeo. Pemerintah menyampaikan duka cita mendalam serta mengerahkan seluruh sumber daya untuk memastikan penanganan medis bagi korban luka-luka berjalan tanpa hambatan.

Sementara itu, aktivitas kegempaan di kawasan Flores masih menunjukkan frekuensi yang tinggi akibat proses penyesuaian kerak bumi dari sesar naik Flores Back-Arc Thrust. Dari ribuan gempa susulan yang tercatat, puluhan di antaranya dirasakan cukup kuat oleh warga dan memicu kekhawatiran meluas di tengah masyarakat.

Akibat ketakutan akan guncangan susulan serta kondisi rumah yang mengalami kerusakan berat, jumlah warga yang mengungsi tercatat melonjak hingga mencapai hampir 60.000 jiwa. Kabupaten Manggarai tercatat sebagai wilayah dengan sebaran pengungsi terbanyak yang ditampung di berbagai posko darurat.

Pemerintah pusat bersama pemda terus mempercepat pengiriman logistik bantuan sandang, pangan, serta air bersih ke posko-posko pengungsian. Mengingat kondisi geografis pulau yang berbukit dan beberapa akses jalan yang tertutup longsor, distribusi bantuan turut dikerahkan melalui jalur udara dan transportasi laut.

Kementerian Pekerjaan Umum dan instansi terkait juga mulai memetakan tingkat kerusakan infrastruktur pemukiman dan fasilitas umum untuk persiapan tahap rehabilitasi. Pendataan bangunan rusak ini menjadi langkah awal sebelum program perbaikan rumah warga dilaksanakan secara massal.

Melalui pemantauan intensif dan penyaluran bantuan yang masif, pemerintah berkomitmen untuk mendampingi para penyintas hingga situasi kembali kondusif. Warga diimbau untuk tetap waspada, mengikuti arahan petugas di lapangan, serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumber kebenarannya.