Kupang, Avis News — Menatap pusat perbelanjaan atau kafe di perkotaan pada pertengahan 2026 ini, orang mungkin akan berasumsi bahwa kondisi ekonomi masyarakat sedang baik-baik saja. Pusat keramaian tampak hidup, gerai kuliner terisi, dan aktivitas nongkrong seolah tidak pernah surut di tengah gejolak nilai tukar dolar yang menyentuh level tinggi serta kenaikan harga bahan bakar minyak.
Namun, di balik fasad keramaian tersebut, tersimpan sebuah narasi ekonomi yang jauh lebih kompleks. Situasi ini bukan sekadar cerminan kemakmuran, melainkan sebuah anomali perilaku finansial yang melahirkan fenomena sosial baru di kalangan masyarakat urban.
Ilusi Keramaian dan Fenomena "Rojali"
Anggapan bahwa mal yang ramai berarti tingginya daya beli masyarakat terbantahkan oleh data di lapangan. Berdasarkan riset lembaga terkait, muncul istilah populer "Rojali" atau rombongan jarang beli, yang menggambarkan fenomena pengunjung datang memenuhi pusat perbelanjaan bukan untuk memborong barang, melainkan sekadar menikmati fasilitas publik, bersosialisasi, atau melihat-lihat (window shopping) tanpa melakukan transaksi besar.
Survei Katadata Insight Center bersama tSurvey mencatat bahwa aktivitas mayoritas masyarakat saat mendatangi mal didominasi untuk makan di restoran atau kafe sebesar 68%, serta menonton bioskop sebesar 49%. Sebaliknya, pengunjung yang datang dengan tujuan utama membelanjakan uang untuk pakaian, gawai, atau furnitur tertulis jauh lebih rendah, yakni di angka 34%.
Pergeseran fungsi pusat perbelanjaan dari pusat transaksi murni menjadi lifestyle destination atau third place membuktikan bahwa masyarakat tetap keluar rumah, namun dengan strategi pengeluaran yang jauh lebih ketat. Pembelian aset besar seperti properti atau kendaraan ditunda, sementara ruang-ruang publik berskala kecil tetap diakses demi menjaga kewarasan mental.
Kesehatan Finansial Rumah Tangga di Bawah Tekanan
Data makroekonomi memperlihatkan bahwa tekanan terhadap dompet masyarakat bukanlah isapan jempol. Berdasarkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dari Bank Indonesia, terjadi penurunan tingkat keyakinan yang dipicu oleh kekhawatiran terhadap ketersediaan lapangan kerja serta pelemahan daya beli untuk barang tahan lama.
Di sisi lain, Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menyoroti adanya jurang ketimpangan yang semakin lebar dalam pola konsumsi nasional. Saldo rekening dengan nominal di bawah Rp100 juta terpantau terus menyusut, sementara kelompok rekening jumbo justru mencatatkan pertumbuhan signifikan. Kondisi ini memperjelas bahwa kelompok kelas menengah kebawah sedang berjuang keras mengencangkan ikat pinggang.
Mencari "Bahagia Kecil" Lewat Lipstick Effect
Ketika impian-impian finansial skala besar seperti memiliki hunian terasa semakin sulit dijangkau akibat tekanan biaya hidup, psikologi konsumen secara otomatis mencari pelarian. Di sinilah konsep compensatory consumption dan lipstick effect bekerja secara nyata.
Tekanan finansial dan stres harian tidak lantas membuat orang berhenti mengonsumsi secara total. Sebaliknya, tekanan tersebut mendorong individu untuk mencari bentuk penghargaan kecil bagi diri sendiri (self-reward). Mengeluarkan uang sebesar Rp30 ribu hingga Rp50 ribu untuk secangkir kopi atau makanan kesukaan di kafe menjadi bentuk pelarian yang paling masuk akal dan mudah dicapai ketika target finansial besar terasa semakin jauh di angan-angan.
Masyarakat tidak lagi melihat pengeluaran kecil sebagai ancaman, melainkan sebagai bentuk pertahanan psikologis di tengah himpitan ekonomi. Namun, jika akumulasi dari pengeluaran-pengeluaran kecil ini diabaikan melalui bias perilaku seperti mental accounting, ia perlahan bisa menjelma menjadi beban finansial yang menggerogoti tabungan masa depan.
Menilik situasi ini secara mendalam, fenomena ramainya pusat perbelanjaan bukanlah tanda ketidakpedulian, melainkan bentuk adaptasi psikologis masyarakat urban yang mencoba bertahan di tengah badai tekanan ekonomi global.
Avis News — Kritis Tanpa Gaduh, Berpihak Tanpa Menghakimi.