Kupang, Avis News — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi peristiwa gempabumi tektonik bermagnitudo 6,1 yang mengguncang wilayah Nias Selatan, Sumatera Utara, pada Selasa, 18 Agustus 2026. Rilis pemutakhiran data parameter seismik tersebut dikeluarkan oleh BMKG guna memberikan kepastian informasi kondisi kegempaan kepada publik, memastikan bahwa guncangan yang berpusat di laut tersebut tidak berpotensi memicu gelombang tsunami, serta mengimbau masyarakat di pesisir barat Sumatera agar tetap tenang dan waspada.
Berdasarkan analisis BMKG, episenter gempabumi terletak di laut pada kedalaman dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng di zona Megathrust Sumatera. Guncangan tektonik tersebut dirasakan cukup kuat di wilayah Nias Selatan dan sekitarnya, serta getarannya meluas hingga ke kawasan daratan Sumatra Barat seperti Kabupaten Agam.
BMKG menjelaskan bahwa guncangan gempa dirasakan oleh warga dengan skala intensitas bervariasi, di mana beberapa daerah merasakan getaran nyata seperti truk berat yang sedang melintas. Meski getaran terasa cukup kuat dan memicu kepanikan warga, hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan maupun korban jiwa.
Otoritas meteorologi dan geofisika menegaskan bahwa hasil pemodelan matematika menunjukkan gempa dangkal M 6,1 ini tidak memiliki energi yang cukup untuk memicu tsunami. Oleh karena itu, masyarakat di kawasan pesisir Nias dan sekitarnya diminta untuk tidak melakukan evakuasi secara mandiri tanpa arahan resmi.
Petugas stasiun pemantau BMKG terus melakukan observasi ketat terhadap potensi aktivitas gempabumi susulan (aftershocks) pascaguncangan utama. Pemantauan dilakukan secara konstan guna memastikan tren frekuensi guncangan terus melandai dan situasi kembali aman.
BPBD setempat bersama unsur aparat keamanan telah diterjunkan ke lapangan untuk menyisir pemukiman warga dan memverifikasi dampak guncangan. Petugas mengimbau warga untuk memeriksa kondisi struktur bangunan rumah masing-masing sebelum kembali beraktivitas di dalam ruangan.
Melalui kepastian informasi tidak berpotensi tsunami ini, BMKG meminta masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh isu spekulatif yang beredar di media sosial. Kewaspadaan mandiri serta kepatuhan pada informasi resmi otoritas menjadi prioritas utama dalam menghadapi bencana kegempaan.