Kupang, Avis News — Pemerintah menargetkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW) sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi nasional.
Presiden Prabowo Subianto mengatakan, pembangunan PLTS tersebut diproyeksikan mampu menghemat sedikitnya Rp73,9 triliun setiap tahun melalui penurunan biaya pokok produksi listrik.
Sebagai tahap awal, pemerintah menargetkan pembangunan 30 GW PLTS pada 2026. Bersamaan dengan itu, sekitar 13 GW pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) akan dihentikan secara bertahap.
Langkah ini diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak, terutama untuk pembangkit di wilayah terpencil dan kepulauan yang selama ini membutuhkan pasokan BBM dari luar daerah.
Dampaknya Tak Hanya pada Listrik
Kementerian ESDM memperkirakan program PLTS 100 GW membutuhkan investasi sekitar US$71,3 miliar atau sekitar Rp1.140 triliun. Namun, proyek ini juga berpotensi menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar, yakni hingga 2,8 juta pekerjaan di sektor konstruksi serta sekitar 1,5–3,1 juta pekerjaan di sektor manufaktur.
Pengembangan PLTS juga diperkirakan dapat mengurangi kebutuhan impor energi. ESDM menyebut nilai substitusi impor energi berpotensi mencapai US$14,4–28,9 miliar, sekaligus memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional.
Namun, target sebesar itu bukan tanpa tantangan. Pemerintah masih harus memperkuat jaringan transmisi agar listrik dari sumber energi terbarukan yang banyak berada di luar Jawa dapat disalurkan ke pusat-pusat kebutuhan listrik. Kebutuhan pembangunan jaringan transmisi supergrid diperkirakan mencapai 48.000 kilometer.
Bagi Prabowo, pemanfaatan energi matahari bukan hanya soal mengganti sumber listrik. Pemerintah juga mendorong agar energi surya dapat memperkuat kemandirian energi hingga tingkat desa, dengan gagasan setiap desa idealnya memiliki PLTS berkapasitas sekitar 1 MW.
Jika target tersebut terealisasi, Indonesia tidak hanya berpotensi mengurangi beban biaya pembangkitan listrik, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada BBM dan memperbesar penggunaan energi terbarukan.
Target PLTS 100 GW menjadi salah satu langkah besar pemerintah untuk mengubah cara Indonesia memproduksi listrik: dari ketergantungan pada bahan bakar fosil menuju energi matahari.