Kupang, Avis News — Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengajukan penawaran kerja sama ekonomi strategis berupa pemenuhan pasokan beras, daging, dan susu berkualitas tinggi kepada Presiden RI Prabowo Subianto dengan imbalan peningkatan alokasi ekspor pupuk urea dari Indonesia. Proposal skema barter dagang saling menguntungkan ini disampaikan langsung PM Anutin saat menggelar pertemuan bilateral resmi dengan Kepala Negara di Jakarta guna memperkuat ketahanan pangan dan kemitraan ekonomi kedua negara kawasan Asia Tenggara.
Dalam pertemuan tingkat tinggi tersebut, PM Anutin menyampaikan kesiapan pemerintah Thailand untuk menjadi pemasok andal komoditas bahan pangan pokok bagi Indonesia, khususnya beras premium, daging sapi, dan produk susu harian. Sebagai imbal balik atas komitmen pasokan pangan tersebut, pemerintah Thailand meminta dukungan Indonesia untuk meningkatkan kuota pasokan dan alokasi ekspor pupuk urea yang sangat dibutuhkan bagi sektor pertanian negara Gajah Putih tersebut.
Skema perdagangan imbal dagang (barter trade) ini dinilai menjadi solusi taktis bagi kedua negara dalam menghadapi ketidakpastian rantai pasok pangan dunia serta dinamika fluktuasi harga komoditas global. Indonesia yang memiliki keunggulan industri pupuk nasional dinilai memiliki posisi tawar kuat untuk memenuhi kebutuhan pupuk Thailand, sementara pasokan beras dan susu dari Thailand diharapkan mampu menjaga stabilitas cadangan pangan nasional Indonesia.
Selain menawarkan skema barter komoditas pangan dan pupuk, PM Anutin secara khusus meminta Presiden Prabowo untuk memberikan dukungan serta kemudahan regulasi bagi para investor asal Thailand yang beroperasi di tanah air. Pemerintah Thailand berjanji akan terus mendorong perluasan arus investasi dari kalangan pebisnis Thailand di sektor manufaktur, energi, dan agribisnis Indonesia sebagai bentuk komitmen kemitraan jangka panjang.
Presiden Prabowo menyambut baik tawaran kerja sama ekonomi dari PM Anutin dan menegaskan komitmen Indonesia untuk terus mempererat hubungan diplomasi dagang yang saling menguntungkan dengan sesama negara anggota ASEAN. Kepala Negara menugaskan jajaran kementerian teknis terkait untuk segera mempelajari rincian skema perdagangan imbal dagang tersebut agar sesuai dengan regulasi nasional serta tidak mengganggu perlindungan petani dan industri dalam negeri.
Sektor industri pupuk dalam negeri menyambut positif peluang ekspansi pasar ke Thailand sebagai bagian dari strategi peningkatkan nilai tambah ekspor non-migas Indonesia. Pemerintah menjamin bahwa potensi peningkatan ekspor pupuk urea ke Thailand tidak akan mengurangi alokasi subsidi maupun ketersediaan pupuk harian bagi para petani lokal di berbagai daerah Nusantara.
Melalui kesepakatan awal ini, pemerintah Indonesia dan Thailand berharap sinergi di sektor pangan dan energi dapat segera terealisasi dalam waktu dekat. Kerja sama komprehensif ini diharapkan mampu memperkokoh stabilitas ekonomi kawasan, meningkatkan volume perdagangan bilateral, serta membuktikan kekuatan solidaritas antarnegara ASEAN dalam menjaga kedaulatan pangan dan energi nasional masing-masing.