Kupang, Avis News — Sutradara Joko Anwar kembali siap menguncang industri perfilman Indonesia dengan mengumumkan produksi film horor terbarunya, Pengabdi Setan 3: Origin. Film yang diposisikan sebagai prekuel ini dirancang untuk menjawab misteri besar serta asal-usul sekte dan perjanjian iblis yang menyelimuti dua film sebelumnya.
Menariknya, narasi horor kali ini tidak hanya berlatar di tanah air, melainkan membentang lintas benua dengan memadukan sejarah mistis Eropa dan kisah lokal di pesisir Jawa.
Inspirasi Peristiwa Nyata Dancing Plague 1518
Hal yang paling mencuri perhatian dari proyek Pengabdi Setan 3: Origin adalah latar belakang pengait cerita utamanya. Proyek ini mengintegrasikan fenomena sejarah nyata bernama Dancing Plague atau Wabah Menari yang terjadi di Strasbourg, Prancis, pada Juli 1518.
Kala itu, peristiwa misterius dimulai saat seorang wanita bernama Frau Troffea mendadak menari secara liar di jalanan kota tanpa iringan musik maupun alasan yang jelas. Dalam hitungan hari hingga sebulan, jumlah orang yang ikut menari melonjak hingga ratusan jiwa.
Para korban terus menari tanpa henti hingga mengalami kelelahan ekstrem, luka kaki berdarah, serangan jantung, stroke, bahkan tewas di tempat. Peristiwa sejarah aneh inilah yang diolah Joko Anwar sebagai hulu dari teror panjang sekte iblis.
Eksplorasi Skala Besar dan Latar Lintas Benua
Di atas kertas, penggabungan unsur sejarah sejarah nyata Eropa abad ke-16 dengan folklore supranatural Jawa menunjukkan ambisi besar untuk membawa waralaba Pengabdi Setan ke tingkatan naratif yang lebih luas dan kompleks.
Penggunaan latar dua benua serta melibatkan tujuh bahasa yang berbeda diprediksi akan memberikan pengalaman sinematik horor yang jauh lebih megah sekaligus menegangkan bagi para penikmat film.
Namun di luar skala produksinya yang masif, tantangan terbesar tetap berada pada bagaimana merajut benang merah sejarah asal-usul teror tersebut agar tetap padu, masuk akal, dan terhubung erat dengan mitologi keluarga Ibu yang sudah melekat kuat di hati penonton.
Sebab pada akhirnya, kekuatan sebuah film horor tidak hanya terletak pada skala teror atau latar tempat yang megah, melainkan pada keutuhan cerita yang mampu terus membayangi benak penonton bahkan setelah layar bioskop dipadamkan.