Kupang, Avis News — TelkomGroup bergerak cepat memulihkan jaringan telekomunikasi di Nusa Tenggara Timur setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Dalam waktu kurang dari 24 jam, sekitar 85 persen konektivitas yang terdampak dilaporkan telah kembali pulih. Pemulihan tersebut mencakup sekitar 400 BTS serta sekitar 2.600 pelanggan IndiHome yang sebelumnya mengalami gangguan.
Gangguan jaringan terjadi akibat dampak gempa terhadap sejumlah infrastruktur, termasuk putusnya beberapa jaringan fiber optik di darat dan laut. Namun, jaringan backbone TelkomGroup disebut masih berfungsi karena ditopang jalur cadangan.
Untuk mempercepat pemulihan, sekitar 300 personel teknis TelkomGroup diterjunkan ke sejumlah wilayah terdampak. Mereka melakukan asesmen kerusakan, perbaikan jaringan serta memastikan infrastruktur pendukung dapat kembali beroperasi.
TelkomGroup juga mengoperasikan genset bergerak maupun genset tetap untuk menjaga layanan tetap berjalan di wilayah yang pasokan listriknya belum sepenuhnya normal.
Langkah tersebut menjadi krusial karena dalam situasi bencana, jaringan komunikasi bukan sekadar fasilitas publik. Koneksi telekomunikasi menjadi bagian dari rantai penyelamatan mulai dari koordinasi evakuasi, penyampaian informasi kepada masyarakat, hingga distribusi bantuan.
Pemulihan 85 persen dalam waktu 24 jam menunjukkan pentingnya redundansi jaringan dan kesiapan teknis menghadapi bencana. Infrastruktur cadangan memungkinkan layanan tetap berjalan meski sebagian jalur utama mengalami kerusakan.
Namun, angka 85 persen juga berarti masih ada bagian jaringan yang belum sepenuhnya normal. Karena itu, tantangan berikutnya bukan hanya mengembalikan sinyal, tetapi memastikan konektivitas di wilayah yang paling terdampak dapat bertahan selama proses tanggap darurat dan pemulihan berlangsung.
Pemulihan dilakukan dengan berkoordinasi bersama pemerintah, BNPB dan BPBD, TNI-Polri, Kementerian Komunikasi dan Digital serta sejumlah pihak terkait.
Di tengah bencana yang masih menyisakan kerusakan dan kebutuhan dasar masyarakat, keberadaan jaringan komunikasi menjadi salah satu infrastruktur yang tidak boleh terputus terlalu lama.
Sebab, dalam kondisi darurat, satu sambungan telepon dapat berarti kabar keselamatan, satu pesan dapat menjadi permintaan bantuan, dan satu jaringan yang kembali hidup dapat mempercepat proses penyelamatan.