Kupang, Avis News — CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Rosan Roeslani mengungkapkan bahwa potensi nilai pasar industri kendaraan bermotor roda dua listrik di Indonesia diperkirakan mampu menembus angka hingga 170 miliar dolar AS di masa depan. Proyeksi nilai ekonomi yang fantastis ini disampaikan Rosan guna memperlihatkan besarnya ruang pertumbuhan investasi energi hijau di Indonesia, sekalipun tingkat penetrasi penjualan sepeda motor listrik saat ini baru menguasai sekitar 1 persen dari total pasar kendaraan roda dua nasional.

Pemerintah dan Danantara menilai bahwa angka penetrasi yang terbilang masih sangat rendah tersebut bukanlah sebuah hambatan, melainkan peluang bisnis yang amat masif bagi para investor dalam dan luar negeri. Tingginya populasi pengguna sepeda motor berbasis bahan bakar minyak di tanah air menjadikan percepatan adopsi kendaraan ramah lingkungan ini sebagai kunci utama transformasi industri otomotif nasional.

Besarnya nilai potensi pasar sebesar 170 miliar dolar AS tersebut mencakup keseluruhan ekosistem kendaraan listrik hulu ke hilir. Ceruk bisnis ini meliputi manufaktur perakitan unit motor listrik, produksi dan perakitan sel baterai, penyediaan infrastruktur Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU), hingga industri daur ulang komponen baterai bekas.

Rosan menjelaskan bahwa untuk merealisasikan potensi ekonomi raksasa tersebut, diperlukan dorongan akselerasi yang kuat berupa kemudahan regulasi, intensif pembiayaan, serta kesiapan infrastruktur pendukung pengisian daya yang merata. Danantara berkomitmen untuk memfasilitasi dan menarik investasi strategis guna membangun ekosistem otomotif listrik yang kokoh dan mandiri di tanah air.

Di samping itu, transisi besar-besaran dari motor konvensional ke motor listrik diyakini bakal memberikan dampak signifikan bagi pengurangan emisi karbon nasional serta penekanan beban subsidi bahan bakar minyak pada APBN. Penggunaan kendaraan listrik di sektor transportasi harian dinilai jauh lebih efisien dari sisi biaya operasional bagi masyarakat.

Guna mengejar target peningkatan penjualan motor listrik, kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan produsen swasta terus diperkuat. Penyiapan standar kualitas baterai yang seragam serta kemudahan akses penukaran baterai menjadi fokus utama agar masyarakat merasa aman dan nyaman untuk berpindah ke kendaraan listrik.

Melalui dorongan investasi dan penguatan ekosistem kendaraan listrik yang tengah digencarkan ini, Indonesia optimistis mampu bertransformasi dari sekadar pasar konsumen menjadi pusat produksi motor listrik utama di kawasan Asia Tenggara. Terbukanya potensi pasar yang sangat luas ini diharapkan mampu mendorong kemandirian energi nasional sekaligus menciptakan lapangan kerja baru berbasis teknologi hijau.