Kupang, Avis News — Pemerintah menetapkan Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai salah satu wilayah prioritas percepatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya untuk kawasan tertinggal, terdepan dan terluar atau 3T.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan pemerintah tengah mempercepat penataan dan aktivasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah 3T. Secara nasional, terdapat 1.703 SPPG 3T yang menjadi bagian dari percepatan tersebut.
Untuk NTT sendiri, pemerintah mencatat terdapat 1.123 pengajuan SPPG 3T. Dari jumlah tersebut, 170 SPPG telah tervalidasi dan dinyatakan siap beroperasi.
NTT Jadi Perhatian karena Stunting
Percepatan MBG di NTT tidak lepas dari persoalan pemenuhan gizi dan angka stunting yang masih menjadi tantangan.
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di NTT tercatat 37 persen. Sejumlah daerah seperti Timor Tengah Selatan, Sumba Barat Daya dan Timor Tengah Utara juga masih menghadapi persoalan stunting yang tinggi.
Karena itu, pemerintah menilai keberadaan SPPG di wilayah 3T bukan sekadar memperluas cakupan MBG, tetapi juga menjadi bagian dari intervensi pemenuhan gizi anak.
Dapur SPPG Tak Boleh Kurangi Standar Gizi
Dalam percepatan tersebut, pemerintah mengingatkan pengelola SPPG agar kondisi geografis tidak menjadi alasan untuk menurunkan kualitas makanan.
Menu dan kandungan gizi yang telah ditetapkan harus tetap dipenuhi. Artinya, percepatan pembangunan dapur MBG harus berjalan beriringan dengan keamanan pangan, kualitas menu dan standar gizi.
Salah satu fasilitas yang telah dinyatakan siap adalah SPPG Sikka Munerana di Kabupaten Sikka. SPPG tersebut direncanakan melayani kurang dari 1.000 penerima manfaat.
Pemerintah saat ini juga melakukan penataan terhadap 8.617 SPPG di daerah terpencil, termasuk 1.703 SPPG yang berada di wilayah 3T.
Bagi NTT, percepatan ini menjadi penting. Tantangannya bukan hanya membangun dapur, tetapi memastikan makanan bergizi benar-benar dapat sampai kepada anak-anak di wilayah kepulauan dan daerah yang akses distribusinya tidak selalu mudah.
Jika berjalan sesuai target, MBG diharapkan tidak hanya menjadi program pemberian makanan, tetapi juga menjadi salah satu instrumen untuk memperbaiki kualitas gizi anak dan membantu menekan stunting di NTT.
Di wilayah 3T, tantangannya bukan sekadar menghadirkan makanan. Tantangannya adalah memastikan setiap anak mendapatkan makanan yang bergizi, aman dan berkualitas.