Kupang, Avis News — Sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang melanda ruang udara nasional telah memicu ancaman kerugian finansial yang sangat signifikan bagi sektor aviasi. Berdasarkan kalkulasi pengamat dan pelaku industri, total potensi kerugian yang harus ditanggung oleh industri penerbangan bahkan ditaksir bisa menembus angka Rp130 miliar.

Lonjakan kerugian tersebut dipicu oleh berbagai faktor krusial, mulai dari pembatalan dan penundaan penerbangan massal, biaya kompensasi penumpang berupa penyediaan fasilitas makanan serta akomodasi hotel akibat penundaan yang panjang, hingga beban biaya perawatan serta pembersihan mesin pesawat yang sangat mahal apabila sempat terpapar partikel debu vulkanik. Efek domino dari bencana ini juga merembet ke sektor pariwisata serta rantai pasok logistik udara nasional.

Dampak Luas Terhadap Sektor Transportasi Udara

Selain masalah finansial maskapai, erupsi ini turut melumpuhkan aktivitas operasional di sejumlah bandara penting yang berada di jalur sebaran abu. Penutupan sementara bandara-bandara yang terpapar memaksa ratusan ribu penumpang mengalami pembatalan jadwal terbang.

Situasi ini membuat loket layanan pelanggan dipadati warga yang harus mengurus proses pengembalian dana (refund) maupun penjadwalan ulang (reschedule) tiket perjalanan mereka. Di atas kertas, pembatalan penerbangan adalah langkah mutlak demi keselamatan, namun di lapangan hal ini menciptakan kerumitan logistik yang luar biasa bagi maskapai maupun penumpang.

Pemerintah bersama otoritas terkait terus memantau pergerakan sebaran abu vulkanik secara intensif guna memastikan keselamatan penerbangan sipil tetap menjadi prioritas utama sebelum bandara-bandara yang terdampak diizinkan beroperasi normal kembali.