Kupang, Avis News — Gelar sarjana belum otomatis menjadi tiket menuju pekerjaan. Persaingan pasar kerja yang semakin ketat membuat banyak lulusan perguruan tinggi masih harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan pekerjaan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dalam laporan Narasi menunjukkan sekitar 1 juta lulusan pendidikan S1 hingga S3 masih menganggur per Mei 2026.
Angka tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan ketenagakerjaan Indonesia bukan hanya soal jumlah lapangan pekerjaan, tetapi juga soal kesesuaian antara pendidikan, keterampilan, dan kebutuhan industri.
Setiap tahun, perguruan tinggi meluluskan jutaan mahasiswa. Namun, pertumbuhan lulusan tidak selalu berjalan seimbang dengan penciptaan pekerjaan yang membutuhkan kompetensi akademik mereka.
Akibatnya, sebagian lulusan terpaksa menerima pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang pendidikan, bekerja di sektor informal, atau memilih menunggu pekerjaan yang dianggap lebih sesuai dengan kualifikasinya.
Kondisi ini juga memperlihatkan bahwa dunia pendidikan perlu semakin dekat dengan kebutuhan industri. Kemampuan akademik tetap penting, tetapi lulusan juga dituntut memiliki keterampilan praktis, kemampuan digital, komunikasi, adaptasi, hingga pengalaman kerja.
Bagi pemerintah, angka tersebut menjadi pekerjaan rumah untuk memperkuat penciptaan lapangan kerja berkualitas sekaligus memastikan pendidikan tinggi tidak berhenti pada pencapaian gelar.
Sementara bagi mahasiswa dan calon lulusan, pesan yang muncul cukup jelas: ijazah penting, tetapi kompetensi dan pengalaman menjadi pembeda ketika memasuki pasar kerja.
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), Narasi.