Kupang, Avis News — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi peristiwa gempa bumi susulan berkekuatan Magnitudo 5,8 yang kembali menggetarkan wilayah Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis pagi, 20 Agustus 2026. Pemutakhiran analisis seismik tersebut disampaikan oleh BMKG guna memetakan pergerakan kerak bumi di zona rawan, menenangkan masyarakat agar tidak panik secara berlebihan, serta memastikan bahwa guncangan dangkal tersebut tidak berpotensi memicu gelombang tsunami.
Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, episenter gempa bumi tersebut berlokasi di darat pada jarak 34 kilometer arah timur laut Ruteng, Kabupaten Manggarai, dengan kedalaman hiposentrum yang sangat dangkal yakni 10 kilometer. Peristiwa ini merupakan bagian dari rangkaian aktivitas gempa susulan pascagempa utama berkekuatan M 7,7 yang melanda Flores sejak pertengahan Agustus.
Meskipun pusat guncangan berada di darat, hasil pemodelan tsunami yang dilakukan oleh sistem pemantauan geofisika BMKG menunjukkan secara pasti bahwa gempa bumi ini tidak menimbulkan ancaman tsunami di wilayah pesisir. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang serta tidak terpengaruh oleh isu-isu spekulatif yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Guncangan gempa M 5,8 ini dirasakan cukup kuat di beberapa kabupaten di Flores, hingga membuat sebagian warga terkejut dan berlarian keluar dari dalam rumah. Skala intensitas guncangan tertinggi tercatat di wilayah Kabupaten Manggarai, serta dirasakan dalam skala sedang hingga ringan di Manggarai Barat, Nagekeo, dan Sikka.
BMKG menjelaskan bahwa secara teknis gempa bumi ini dipemicu oleh aktivitas sesar naik belakang busur Flores (Flores Back-Arc Thrust). Proses penyesuaian kerak bumi pascagempa utama masih terus berlangsung hingga mencapai titik kestabilan tektonik secara menyeluruh.
Hingga saat ini, BMKG mencatat telah terjadi ribuan kali gempa susulan di kawasan Flores dengan frekuensi yang secara bertahap mulai meluruh. Tim teknis di lapangan terus memantau pergerakan sesar secara berkala demi memberikan informasi mitigasi bencana yang presisi kepada pemda dan masyarakat.
Melalui rilis resmi ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk memeriksa kondisi kelayakan bangunan tempat tinggal sebelum kembali beraktivitas di dalam rumah. Kesiapsiagaan dan kewaspadaan bersama dipastikan menjadi faktor penting dalam menjaga keselamatan warga dari risiko reruntuhan bangunan akibat bencana alam.