Kupang, Avis News — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan bahwa Juli 2026 menjadi bulan terkering sekaligus mencatatkan rekor suhu terpanas di Indonesia sejak tahun 1991. Fenomena cuaca ekstrem ini dipicu oleh menguatnya fenomena El Nino serta dominasi angin muson timur yang melintasi wilayah Nusantara, sehingga berdampak pada penurunan curah hujan secara drastis di berbagai daerah.
Data pemantauan iklim BMKG menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia, terutama Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga wilayah Sumatra bagian selatan, mengalami hari tanpa hujan (HTH) dengan kategori sangat panjang hingga ekstrem. Anomali suhu udara rata-rata nasional juga mencatatkan lonjakan signifikan yang melampaui ambang batas normal bulanan.
Kondisi kekeringan parah dan suhu tinggi ini memperbesar risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara masif di beberapa provinsi rawan. Laporan lapangan mengonfirmasi munculnya titik panas (hotspot) yang terus meradang di kawasan perkebunan dan hutan gambut, sehingga mengancam kualitas udara serta kesehatan masyarakat.
Pemerintah daerah bersama BPBD, TNI, Polri, dan Manggala Agni kini disiagakan penuh untuk melakukan mitigasi dan pemadaman darurat di titik-titik api utama. Penembakan garam untuk Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan mulai digencarkan di udara guna membasahi lahan gambut yang sangat kering dan rentan terbakar.
Selain ancaman karhutla, fenomena Juli terkering ini juga memukul sektor pertanian dan ketersediaan air bersih di daerah pemukiman. Banyak lahan sawah tadah hujan terancam gagal panen (puso), sementara debit air di beberapa waduk dan bendungan utama dilaporkan menyusut hingga ke batas kritis.
Merespons situasi iklim yang kian mengkhawatirkan ini, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk memperketat efisiensi penggunaan air bersih serta menghentikan seluruh aktivitas pembakaran lahan. Kesiapsiagaan penuh dari tingkat tapak hingga nasional dinilai menjadi kunci utama untuk mencegah krisis pangan dan bencana asap yang lebih meluas.
BMKG memprediksi kondisi puncak musim kemarau dan efek El Nino ini masih akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan. Sinergi antara pemantauan iklim yang akurat, pengawasan lapangan secara ketat, dan kesadaran publik diharapkan dapat meminimalkan dampak buruk dari rekor cuaca ekstrem tahun 2026 ini.