Kupang, Avis News —  Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi telah mencatat sebanyak 4.258 kali aktivitas gempa susulan di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, hingga Jumat (21/8/2026).

Peningkatan aktivitas seismik ini terjadi sebagai respons pelepasan energi susulan pascagempa utama bermagnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan tersebut beberapa hari sebelumnya. BMKG memperkirakan rangkaian gempa susulan masih berpotensi terjadi hingga tiga hingga empat minggu ke depan sampai kondisi tektonik di kedalaman bumi kembali stabil. Ketegasan informasi ini disampaikan untuk menjaga kewaspadaan masyarakat tanpa memicu panik berlebihan di area penampungan dan pemukiman.

Imbauan Waspada dan Pengawasan Bangunan Rawan

Kepala BMKG mengimbau warga terdampak di wilayah Flores dan sekitarnya untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kerusakan bangunan akibat guncangan berulang. Warga yang kondisi rumahnya mengalami retak struktur diminta tidak memaksakan diri untuk menginap di dalam ruangan guna menghindari risiko kerobohan. 

Selain itu, masyarakat diharapkan hanya memantau pembaruan data frekuensi gempa melalui saluran resmi BMKG dan mengabaikan informasi penyesatan yang tidak terverifikasi. BMKG bersama tim gabungan juga terus memantau pergerakan sesar aktif di sekitar perairan Flores untuk mengantisipasi dampak sekunder pada area lereng rawan longsor.

Penguatan Fasilitas Penampungan dan Ketahanan Fisik Warga

Rentetan gempa susulan dalam durasi panjang menuntut kesiapan mental masyarakat dan keandalan sarana pengungsian di lapangan. Pemerintah daerah serta tim penanggulangan bencana perlu memastikan kelayakan fasilitas penampungan sementara, terutama ketersediaan tenda tahan cuaca dan sanitasi yang memadai. 

Penanganan krisis tidak hanya berfokus pada tanggap darurat awal, melainkan juga perlindungan jangka menengah bagi ribuan pengungsi yang belum bisa kembali ke rumah.

Menghadapi potensi guncangan hingga beberapa pekan ke depan, kesiapan infrastruktur darurat dan edukasi mitigasi adalah kunci utama. Kedisiplinan warga untuk menjauhi bangunan rawan menjadi perlindungan terbaik saat bumi Flores menyelesaikan proses stabilisasinya.