Kupang, Avis News — Bank Indonesia (BI) mencatatkan pertumbuhan signifikan pada kinerja transaksi ekonomi dan keuangan digital nasional yang tumbuh mencapai 28,69 persen secara tahunan (year-on-year) per Juli 2026. Pemutakhiran data sistem pembayaran nasional pada pertengahan Agustus 2026 tersebut dirilis oleh Bank Indonesia guna memetakan pesatnya akseptasi pembayaran digital di masyarakat, mendorong efisiensi rantai transaksi ekonomi nasional melalui integrasi layanan perbankan dan fintech, serta mengukuhkan adopsi sistem pembayaran non-tunai di seluruh wilayah Indonesia.
Di tengah laju pertumbuhan digitalisasi secara keseluruhan, kanal pembayaran QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) mencatatkan performa paling impresif. Transaksi berbasis QRIS melesat tajam dengan pertumbuhan hingga 82,42 persen secara tahunan, mengindikasikan makin tingginya ketergantungan publik pada kemudahan transaksi berbasis pemindaian kode.
Lonjakan penggunaan sistem pembayaran digital ini didukung oleh perluasan jumlah pedagang (merchant) serta penambahan basis pengguna baru di berbagai daerah. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi penyumbang terbesar dalam ekosistem adopsi QRIS nasional.
Bank Indonesia menilai bahwa tren transaksi non-tunai yang serba cepat, aman, dan efisien telah mengubah pola konsumsi dan perilaku bertransaksi masyarakat urban hingga pelosok. Transaksi perbankan digital (digital banking) dan penggunaan dompet elektronik (e-wallet) turut memperlihatkan tren peningkatan yang konsisten.
Sinergi antara otoritas moneter, industri perbankan, dan penyedia jasa pembayaran (PJP) terus diperkuat demi memastikan infrastruktur sistem pembayaran tetap andal dan aman dari kejahatan siber. Sistem keamanan teknologi transaksi finansial diprioritaskan untuk menjaga kepercayaan publik.
Selain domestik, BI juga terus mengakselerasi perluasan interkoneksi sistem pembayaran lintas negara (cross-border QR payment). Langkah ini ditujukan untuk mempermudah transaksi antarnegara bagi wisatawan dan pelaku usaha di kawasan regional.
Melalui catatan positif pertumbuhan transaksi digital yang menembus 28,69 persen ini, Bank Indonesia optimistis inklusi keuangan nasional akan kian terakselerasi. Penguatan ekosistem ekonomi digital dipastikan tetap menjadi pilar utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.