Kupang, Avis News — Pemerintah mulai menyiapkan fondasi ekonomi untuk menghadapi 2027. Salah satu pembahasan penting adalah asumsi makroekonomi yang akan menjadi dasar penyusunan RAPBN 2027.

Dalam pembahasan bersama Komisi XI DPR RI, pemerintah menetapkan sejumlah sasaran ekonomi, termasuk pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen dan asumsi nilai tukar rupiah di kisaran Rp17.500 per dolar AS.

Selain itu, sejumlah indikator lain turut menjadi perhatian, termasuk inflasi dan tingkat suku bunga Surat Berharga Negara.

Target pertumbuhan 6 persen tentu bukan angka kecil. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perang dagang, gejolak geopolitik, serta tekanan terhadap nilai tukar, pemerintah dituntut tidak hanya membuat target yang terlihat optimistis di atas kertas.

Pertanyaannya sederhana: dari mana pertumbuhan 6 persen itu akan datang?

Pertumbuhan ekonomi harus terasa sampai ke bawah. Bukan hanya tercermin dalam angka investasi dan konsumsi nasional, tetapi juga dalam meningkatnya pendapatan masyarakat, terbukanya lapangan pekerjaan, berkembangnya UMKM, serta membaiknya daya beli.

Begitu pula dengan asumsi rupiah Rp17.500 per dolar AS. Angka tersebut akan menjadi salah satu pijakan penting dalam pengelolaan APBN 2027.

Sebab pergerakan rupiah memiliki efek berantai. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor, sementara penguatan harga komoditas dan tekanan global dapat memengaruhi inflasi serta biaya produksi di dalam negeri.

Karena itu, target ekonomi 2027 seharusnya tidak berhenti sebagai angka dalam dokumen RAPBN.

Yang paling penting adalah bagaimana target tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Pemerintah perlu memastikan belanja negara produktif, investasi menciptakan pekerjaan, sektor usaha lokal diperkuat, dan kebijakan ekonomi tidak hanya menguntungkan kelompok yang sudah kuat.

Bagi daerah seperti NTT, ukuran keberhasilan ekonomi juga harus dilihat dari konektivitas, harga kebutuhan pokok, kesempatan kerja, pertumbuhan UMKM, dan kemampuan masyarakat meningkatkan pendapatan.

Target 6 persen adalah ambisi. Tetapi pekerjaan sesungguhnya adalah membuat pertumbuhan itu inklusif—tumbuh di angka, sekaligus tumbuh dalam kehidupan masyarakat.

Avis News — Kritis Tanpa Gaduh, Berpihak Tanpa Menghakimi.