Kupang, Avis News — Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi bergerak konsolidatif pada perdagangan Rabu (12/8/2026) seiring dengan dinamika geopolitik di Timur Tengah serta sikap kewaspadaan investor yang menantikan rilis data inflasi terbaru dari AS. Pergerakan mata uang Garuda ini berada dalam kecenderungan tertekan setelah dibuka melemah tipis ke level Rp17.869 per dolar AS pada pembukaan pasar uang pagi hari.
Para pelaku pasar dan investor global saat ini memilih mengambil sikap menanti (wait and see) menjelang publikasi Indeks Harga Konsumen (IHK) atau data inflasi AS pekan ini. Data ekonomi tersebut dinilai sangat krusial karena bakal menjadi indikator utama dalam memberi petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), pada pertemuan mendatang.
Selain rilis data makroekonomi AS, ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah turut memberikan sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang. Meningkatnya risiko geopolitik mendorong sebagian pelaku pasar mengalihkan modal mereka ke aset-aset yang dinilai lebih aman (safe haven), sehingga menopang penguatan indeks dolar AS secara global.
Analis pasar uang menuturkan bahwa sifat konsolidatif rupiah mencerminkan adanya keseimbangan antara pasokan valuta asing di dalam negeri dan tingginya permintaan dolar untuk kebutuhan impor. Kendati tertekan oleh faktor eksternal, fondasi ekonomi domestik yang relatif solid dinilai mampu menahan nilai tukar rupiah agar tidak merosot lebih dalam.
Bank Indonesia (BI) diprediksi akan terus memantau pergerakan nilai tukar secara intensif serta siap melakukan intervensi terukur di pasar uang untuk menjaga stabilitas. Langkah intervensi di pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) disiap-siagakan guna meminimalkan efek volatilitas berlebihan pada mata uang rupiah.
Di sisi lain, pergerakan nilai tukar regional Asia juga mencatatkan pola yang bervariasi (mixed) terhadap greenback seiring sentimen global yang serupa. Ketidakpastian mengenai kapan bank sentral global mulai melonggarkan kebijakan moneter ketatnya terus menjadi penggerak utama pasar uang dalam beberapa pekan terakhir.
Dengan kombinasi sentimen eksternal dan upaya stabilisasi otoritas moneter dalam negeri, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang konsolidasi yang terbatas sepanjang hari perdagangan. Kewaspadaan pasar terhadap rilis data inflasi AS serta eskalasi konflik geopolitik diperkirakan masih akan menjadi penentu arah nilai tukar hingga akhir pekan.