Kupang, Avis News — Menteri Sekretaris Negara mengungkapkan rencana strategis pemerintah untuk memasukkan komoditas kelapa sawit (CPO), nikel, hingga batu bara ke dalam bursa mineral dan komoditas nasional yang ditargetkan beroperasi penuh. Kebijakan komoditas tersebut dibocorkan oleh pihak Istana guna membentuk penentuan harga acuan (benchmark price) komoditas utama secara mandiri di dalam negeri, memperkuat kedaulatan perdagangan nasional, serta mengurangi ketergantungan industri domestik terhadap bursa komoditas luar negeri.
Pemerintah menargetkan peluncuran dan pembentukan bursa komoditas strategis ini dapat terealisasi pada tahun 2027 mendatang. Langkah ini dipandang pentinging mengingat Indonesia merupakan salah satu produsen utama dunia untuk komoditas nikel, kelapa sawit, dan batu bara.
Dengan hadirnya bursa mineral dan komoditas mandiri, Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pengikut harga (price taker) di pasar global. Keberadaan bursa domestik akan memberikan daya tawar (bargaining power) yang jauh lebih kuat bagi para pelaku industri dan eksportir nasional.
Mensesneg menjelaskan bahwa integrasi berbagai komoditas unggulan ke dalam satu wadah bursa terpadu akan meningkatkan transparansi transaksi dan perdagangan. Selain itu, mekanisme bursa yang kredibel diproyeksikan mampu mengoptimalkan penerimaan negara dari sektor pajak dan devisa hasil ekspor.
Persiapan teknis, regulasi, dan penguatan infrastruktur pasar saat ini sedang dimatangkan oleh kementerian terkait bersama otoritas perdagangan. Pemerintah berkomitmen memastikan ekosistem perdagangan di dalam bursa dapat berjalan secara efisien, aman, dan berstandar internasional.
Rencana pembentukan bursa ini juga mendapat sambutan positif dari para pelaku usaha dan asosiasi komoditas nasional. Kepastian harga acuan lokal dinilai akan memberikan perlindungan dan iklim investasi yang lebih stabil bagi industri hilirisasi di tanah air.
Melalui peluncuran bursa mineral dan komoditas nasional pada 2027 mendatang, pemerintah optimistis Indonesia dapat menegaskan posisinya sebagai pusat perdagangan komoditas dunia. Langkah berani ini diharapkan menjadi pilar utama pembentukan kemandirian dan kedaulatan ekonomi nasional di masa depan.