Kupang, Avis News — Kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan menjadi sorotan, sementara sejumlah saham perusahaan sawit justru mencatat penguatan dalam perdagangan sepekan terakhir.

Data yang ditampilkan dalam infografis menunjukkan saham Jhonlin Agro Raya (JARR) menjadi yang paling tinggi dengan kenaikan 87,1 persen, disusul BWPT 34,1 persen, GZCO 18,1 persen, dan DSNG 17,5 persen. Saham sawit lainnya seperti TAPG, SSMS, SIMP dan SIPD juga tercatat menguat.

Fenomena tersebut muncul ketika titik panas dan karhutla kembali meningkat di sejumlah wilayah Kalimantan. Namun, kenaikan saham tidak serta-merta berarti pasar “diuntungkan” oleh kebakaran.

Kenaikan Saham Tak Otomatis karena Karhutla

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengingatkan agar pergerakan saham sawit tidak langsung dikaitkan sebagai dampak positif dari karhutla. Menurutnya, penguatan saham lebih berkaitan dengan ekspektasi pasar terhadap pasokan crude palm oil (CPO), harga komoditas, kekeringan ekstrem, serta kebijakan biodiesel B50.

Secara sederhana, jika gangguan produksi membuat pasokan CPO berisiko berkurang sementara permintaan tetap tinggi, harga komoditas dapat terdorong naik. Ekspektasi tersebut kemudian dapat memengaruhi valuasi saham perusahaan sawit.

Di sisi lain, kebakaran tetap membawa risiko serius terhadap lingkungan, masyarakat dan produktivitas perkebunan. Dampak terhadap produksi perusahaan juga baru dapat terlihat lebih jelas dalam beberapa bulan mendatang.

Karhutla membakar lahan, sementara pasar menghitung potensi kenaikan harga komoditas dua peristiwa yang terjadi bersamaan, tetapi tidak otomatis memiliki hubungan sebab-akibat.