Kupang, Avis News — Indonesia sedang diingatkan kembali bahwa bencana tidak pernah mengenal batas wilayah.

Dari banjir dan longsor, kebakaran hutan dan lahan, hingga gempa bumi, sejumlah daerah menghadapi ujian masing-masing. Di Nusa Tenggara Timur, gempa Flores yang terjadi pada 15 Agustus 2026 bahkan masih menyisakan pekerjaan besar. Hingga Senin (7/9), BMKG mencatat 13.156 gempa susulan, dengan magnitudo terbesar 6,2. Sebanyak 36 gempa susulan tercatat berkekuatan lebih dari magnitudo 5.

Di balik angka itu ada manusia.

Ada keluarga yang belum kembali ke rumah. Ada anak-anak yang masih belajar dalam kondisi terbatas. Ada warga yang kehilangan tempat tinggal dan harus bertahan di pengungsian. Pemerintah NTT sebelumnya mencatat puluhan ribu rumah dan berbagai fasilitas publik terdampak gempa Flores.

Maka, ketika sebuah pesan “Pray for Indonesia” beredar, doa tentu penting.

Tetapi Indonesia tidak boleh berhenti pada doa.

Doa harus berjalan bersama tindakan.

Bantuan harus sampai kepada mereka yang membutuhkan. Data korban dan kerusakan harus terus diperbarui. Kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, lansia dan penyandang disabilitas harus mendapat perhatian khusus.

Dan yang tidak kalah penting: masyarakat harus mendapatkan informasi yang benar.

Sebab dalam situasi bencana, informasi yang terlambat bisa sama berbahayanya dengan bencana itu sendiri.

BENCANA BUKAN SEKADAR ANGKA

AVIS News melihat ada satu hal yang perlu terus diingat.

Jangan sampai masyarakat hanya muncul dalam pemberitaan ketika bencana terjadi, lalu perlahan dilupakan ketika perhatian publik berpindah ke isu lain.

Gempa Flores belum selesai hanya karena pemberitaan mulai berkurang.

Pemulihan rumah membutuhkan waktu. Pemulihan ekonomi membutuhkan tenaga. Trauma masyarakat membutuhkan pendampingan. Sekolah dan fasilitas kesehatan harus kembali berfungsi.

Karena itu, ukuran keberhasilan penanganan bencana bukan hanya berapa banyak bantuan yang sudah dikirim.

Pertanyaannya: apakah bantuan itu benar-benar sampai kepada warga yang membutuhkan?

Pemerintah Provinsi NTT sendiri kini mulai mendorong pemulihan berbasis data, termasuk melalui integrasi data kerusakan sektoral dan kewilayahan agar proses penanganan tidak terlambat atau salah sasaran.

Ini langkah yang tepat.

Sebab masyarakat tidak membutuhkan belas kasihan yang datang sesaat. Mereka membutuhkan negara yang hadir sejak tanggap darurat, selama masa pemulihan, hingga kehidupan benar-benar kembali berjalan.

Indonesia boleh berdoa.

Indonesia juga harus bergerak.

Karena di tengah bencana, solidaritas bukan hanya tentang merasa prihatin, tetapi memastikan tidak ada warga yang menghadapi penderitaan sendirian.