Kupang, Avis News — Gelar sarjana selama ini kerap dianggap sebagai tiket menuju pekerjaan yang lebih baik. Namun, menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Prof. Rhenald Kasali, anggapan itu kini mulai berubah.

Rhenald menilai perubahan teknologi dan kebutuhan industri membuat perusahaan tidak lagi hanya melihat ijazah atau latar belakang pendidikan seseorang. Keahlian, sikap kerja, kemampuan beradaptasi dan kemauan untuk terus belajar justru semakin menentukan.

Dalam wawancaranya dengan Suara Surabaya, Rhenald menyoroti fenomena semakin banyak orang bekerja lintas bidang. Menurut dia, seseorang tidak harus selamanya bekerja sesuai dengan jurusan yang ditempuh di bangku kuliah.

Sekitar 1 Juta Lulusan Perguruan Tinggi Menganggur

Persoalan ini menjadi semakin relevan ketika melihat kondisi pasar kerja. Berdasarkan data Sakernas Februari 2026 yang dikutip Suara Surabaya, sekitar satu juta lulusan sarjana terapan hingga S-3 masih menganggur. Angka tersebut merupakan bagian dari total 7,24 juta orang yang masuk kategori pengangguran terbuka.

Rhenald mengatakan kondisi tersebut tidak semata-mata menunjukkan rendahnya kualitas lulusan. Struktur industri juga sedang berubah.

Sejumlah pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak tenaga manusia mulai terdampak otomatisasi dan kecerdasan buatan atau AI. Pada saat yang sama, sejumlah sektor industri mengalami perlambatan sehingga kemampuan menyerap tenaga kerja ikut berubah.

AI Mengubah Cara Orang Bekerja

Tantangan tersebut semakin besar karena perkembangan AI berlangsung sangat cepat.

Dalam pesannya kepada wisudawan UI pada 21 Agustus 2026, Rhenald menekankan pentingnya self-driving mentality, yakni mentalitas untuk terus bergerak, mencari pengetahuan dan mengembangkan kemampuan secara mandiri.

Menurutnya, pendidikan tidak boleh berhenti ketika seseorang menerima ijazah. Bahkan seseorang dengan IPK tinggi sekalipun tetap dapat tertinggal apabila berhenti belajar.

Karena itu, lulusan baru dituntut tidak hanya mampu mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan nilai, menemukan peluang dan mengembangkan keahlian yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Rhenald juga mengingatkan perguruan tinggi agar tidak tertinggal oleh perkembangan teknologi. Menurutnya, perubahan kurikulum dan materi pendidikan harus mampu mengikuti perubahan dunia kerja yang berlangsung jauh lebih cepat.

Di era ketika teknologi bisa berubah dalam hitungan bulan, ijazah adalah awal perjalanan, bukan jaminan akhir. Yang semakin menentukan adalah kemampuan seseorang untuk terus belajar dan menciptakan nilai.