Kupang, Avis News — Indonesia mencatatkan kontras data yang sangat signifikan terkait status ekonomi dan tingkat kesejahteraan penduduknya. Meski telah resmi naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah atas (upper-middle income) sejak tahun 2022, proyeksi Bank Dunia (World Bank) per April 2026 justru menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan Indonesia menjadi salah satu yang tertinggi di dalam kelompok negara sejawatnya tersebut.
Perbedaan mendasar antara kalkulasi standar internasional dengan indikator nasional yang digunakan pemerintah pun kini menjadi sorotan publik.
Perbedaan Drastis Standar Bank Dunia dan Data BPS
Perhitungan Bank Dunia menetapkan garis kemiskinan internasional untuk kelompok upper-middle income sebesar US$8,30 per hari atau setara Rp1,51 juta per bulan. Berdasarkan kalkulasi tersebut, sebanyak 64,2 persen penduduk Indonesia atau sekitar 184,90 juta jiwa dikategorikan hidup di bawah garis kemiskinan, jauh melampaui negara tetangga seperti Thailand sebesar 10,1 persen dan Malaysia yang hanya sebesar 1 persen.
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) menetapkan garis kemiskinan nasional berdasarkan pengeluaran minimum kebutuhan dasar senilai Rp669 ribu per bulan, yang menghasilkan angka kemiskinan resmi Indonesia sebesar 8,07 persen atau setara 22,93 juta jiwa.
Rekomendasi Kebijakan dan Penyaluran Bantuan
Kendati indikator internasional memperlihatkan jurang ketimpangan yang lebar dibanding negara sejawat, Bank Dunia tetap menyarankan agar Pemerintah Indonesia menggunakan acuan data BPS untuk penetapan kebijakan domestik. Garis kemiskinan BPS dinilai tetap menjadi standar yang paling relevan untuk penyaluran program bantuan sosial (bansos) agar tepat sasaran sesuai kondisi riil di lapangan.
Pemerintah diharapkan terus berfokus pada penguatan daya beli masyarakat serta pemerataan ekonomi guna memperkecil ketimpangan pendapatan penduduk di kelas menengah.
Perbedaan angka standar internasional dan BPS menyoroti tantangan nyata pemerataan ekonomi; penguatan daya beli serta integrasi data bansos menjadi kunci mengentaskan ketimpangan di kelas menengah.