Kupang, Avis News — Gelombang transformasi teknologi kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menjejaki panggung ekonomi digital dunia.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain penting dalam industri pusat data (data center) berbasis AI global. Namun, peluang emas tersebut sangat bergantung pada kepiawaian bangsa ini dalam mengelola sumber daya energi terbarukan secara tepat, bersih, dan berkelanjutan.
Pernyataan tersebut disampaikan Stella dalam ajang The 12th Indonesia EBTKE ConEX New Renewable Energy and Energy Conservation 2026 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta. Menurutnya, perkembangan AI kini tidak lagi sekadar urusan teknologi digital semata, melainkan telah menjadi pilar utama yang menentukan pertumbuhan ekonomi, kedaulatan, hingga keamanan global.
“Perkembangan AI tidak dapat dipisahkan dari data center, karena AI membutuhkan algoritma, data, dan computing power, sementara computing power berlangsung di data center,” ujar Stella.
LONJAKAN KEBUTUHAN ENERGI DAN MODAL STRATEGIS
Ekspansi teknologi AI diproyeksikan akan memicu lonjakan kebutuhan energi yang sangat masif secara global. Kebutuhan listrik untuk pusat data berbasis AI diperkirakan melonjak tajam dari sekitar 155 terawatt-jam (TWh) pada 2025 menjadi 465 TWh pada 2030.
Bagi Indonesia, tantangan penyediaan energi ini justru dapat bertransformasi menjadi daya tawar strategis. Dengan kekayaan melimpah berupa sumber energi terbarukan, ditambah ketersediaan lahan yang luas dan pasokan air yang memadai, Indonesia memiliki modal dasar yang sangat dicari oleh investor global.
Kendati penguasaan teknologi domestik masih tertinggal, keterbatasan modal dan teknologi bukan halangan mutlak. Sifat industri pusat data yang berskala global membuka peluang lebar bagi perusahaan multinasional untuk membawa investasi serta teknologi tinggi langsung ke tanah air, asalkan fondasi energi hijau siap disediakan.
MENYIAPKAN TALENTA UNGGUL DI PERGURUAN TINGGI
Namun, rantai pasok industri AI tidak akan berjalan hanya dengan modal lahan dan pasokan listrik semata. Faktor penentu paling krusial di masa depan adalah ketersediaan sumber daya manusia yang mumpuni.
Pemerintah melalui Kemdiktisaintek menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menyiapkan talenta-talenta digital yang tidak hanya mampu mengoperasikan, tetapi juga menguasai dan mengembangkan teknologi AI secara mandiri. Kolaborasi lintas sektor mulai dari penyediaan energi, pembangunan infrastruktur digital, penguatan riset, hingga pencetakan tenaga ahli harus dilakukan secara terpadu.
Negara yang mampu menyuguhkan pasokan energi kompetitif berdampingan dengan tenaga profesional berkeahlian tinggi adalah pihak yang pada akhirnya akan memenangkan kompetisi global.
MELANGKAH SEBAGAI PEMAIN, BUKAN PENONTON
Di atas kertas, potensi Indonesia di sektor pusat data hijau dan infrastruktur AI menjanjikan masa depan ekonomi digital yang cerah.
Tetapi di balik gemerlap proyeksi investasi raksasa tersebut, tantangan terbesarnya terletak pada konsistensi kebijakan energi nasional serta kesiapan ekosistem pendidikan tinggi kita.
Jangan sampai kekayaan alam Indonesia dikeruk habis hanya untuk memasok energi pusat data asing, sementara anak bangsa sekadar menjadi penonton di negeri sendiri tanpa transfer teknologi yang memadai.
Indonesia harus memastikan posisinya bukan sekadar pasar digital bagi raksasa teknologi dunia, melainkan pemain utama yang berdaulat atas data, energi, dan masa depannya sendiri.