Kupang, Avis News — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mematangkan pengembangan ekosistem pesawat N219 Nurtanio beserta varian amfibi (N219A) untuk difungsikan sebagai fasilitas ambulans terbang pada pertengahan Agustus 2026. Penyiapan armada penerbangan medis berbasis karya anak bangsa tersebut dikerjakan oleh BRIN guna merespons arahan Presiden terkait penguatan layanan dokter terbang dan evakuasi medis darurat, membuka aksesibilitas kesehatan bagi warga di wilayah terpencil, terdepan, dan tertinggal (3T), serta mempercepat evakuasi pasien di daerah pulau-pulau kecil maupun kawasan yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Dalam pengembangannya, varian N219 ambulans udara dirancang khusus dengan modifikasi kabin yang dilengkapi peralatan medis intensif (intensive care unit/ICU melayang), mencakup tandu medis terintegrasi, tabung oksigen, monitor tanda vital, serta sarana resusitasi. Kabin yang fleksibel memungkinkan tim medis memberikan tindakan darurat secara optimal selama penerbangan berlangsung.

Selain versi standar yang beroperasi di landasan pacu konvensional, BRIN bersama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) memprioritaskan penyelesaian varian N219A atau versi amfibi. Keunggulan varian ini terletak pada kemampuannya untuk melakukan lepas landas dan pendaratan di permukaan air, seperti pesisir pantai, danau, maupun perairan sungai.

Pengembangan versi amfibi dinilai sangat strategis bagi kondisi geografis Indonesia yang didominasi kawasan kepulauan. Fasilitas ini memungkinan pasien dari pulau-pulau terpencil yang tidak memiliki fasilitas bandara atau landasan pacu darat tetap dapat dievakuasi dengan cepat menuju rumah sakit rujukan utama.

Langkah akselerasi ekosistem N219 ini sekaligus menjadi bagian dari upaya penguatan kemandirian teknologi penerbangan nasional dan industri pertahanan-keamanan sipil. Pemerintah terus mendorong integrasi penggunaan produk penerbangan dalam negeri untuk pemenuhan kebutuhan operasional kementerian dan lembaga daerah.

Riset dan pengujian kelaikan udara terhadap modifikasi pesawat terus dikerjakan secara cermat demi memastikan standar keselamatan penerbangan medis tertinggi. Kolaborasi lintas sektor antara BRIN, PTDI, Kementerian Kesehatan, dan pihak terkait diakselerasi agar armada ambulans udara ini dapat segera diproduksi massal.

Melalui penyiapan pesawat N219 dan varian amfibi sebagai ambulans terbang ini, BRIN optimistis ketimpangan akses layanan kesehatan darurat di berbagai pelosok Nusantara dapat teratasi. Inovasi teknologi dirgantara ini diharapkan menjadi pilar utama dalam menyelamatkan banyak nyawa masyarakat di daerah-daerah terpencil.