Kupang, Avis News — Badan Pusat Statistik (BPS) meminta pemerintah pusat dan daerah meningkatkan kewaspadaan setelah harga daging sapi melonjak drastis hingga menembus angka Rp180.000 per kilogram di sejumlah wilayah. Peringatan dini (early warning) ini disampaikan BPS guna mengantisipasi lonjakan inflasi bahan pangan akibat minimnya pasokan serta tingginya biaya distribusi komoditas daging sapi dari daerah sentra ke wilayah konsumen.
Plt Kepala BPS menuturkan bahwa lonjakan harga tertinggi tercatat terjadi di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, di mana harga daging sapi kualitas premium menyentuh level tertinggi nasional sebesar Rp180.000 per kg. Selain di Kalimantan Barat, tren kenaikan harga yang cukup signifikan juga mulai merambat ke kawasan Sumatra, Sulawesi, serta beberapa pasar tradisional di wilayah Pulau Jawa.
Kenaikan harga bahan pokok yang kian tak terkendali ini dipicu oleh terbatasnya populasi sapi siap potong di tingkat peternak lokal serta keterlambatan distribusi pasokan impor. Kondisi ini diperparah oleh naiknya pakan ternak dan biaya logistik antarwilayah yang akhirnya melipatgandakan beban harga jual di tingkat pedagang eceran.
Lonjakan harga yang sangat tajam membuat para pedagang di pasar tradisional menjerit lantaran omzet penjualan mereka merosot drastis akibat sepinya pembeli. Banyak konsumen, mulai dari ibu rumah tangga hingga pelaku usaha kuliner, terpaksa mengurangi porsi pembelian atau beralih ke komoditas protein lain yang lebih terjangkau seperti daging ayam dan telur.
Merespons potensi tekanan inflasi daerah, BPS mendesak Kementerian Perdagangan, Badan Pangan Nasional (Bapanas), serta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk segera mengintervensi pasar secara masif. Langkah taktis seperti menggelar operasi pasar murah dan memperlancar alur logistik dinilai sangat krusial agar gejolak harga tidak meluas ke komoditas pangan lainnya.
Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional mengonfirmasi tengah menyiapkan opsi penambahan kuota pasokan serta fasilitasi distribusi pangan dari wilayah surplus ke daerah minus. Koordinasi intensif bersama para pemangku kepentingan dan importir juga terus dilakukan demi memastikan ketersediaan pasokan daging sapi kembali stabil di pasaran dalam waktu dekat.
Upaya penstabilan harga ini menjadi ujian penting bagi pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah dinamika harga pangan global. Pemantauan ketat di jalur distribusi serta eksekusi pasar murah yang tepat sasaran diharapkan dapat segera menurunkan harga daging sapi kembali ke level normal dan terjangkau bagi publik.