Kupang, Avis News — Gempa bumi yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 memang merusak banyak bangunan. Tetapi ada satu hal yang tidak ikut runtuh: semangat guru dan anak-anak untuk kembali belajar.
Di sejumlah wilayah terdampak, kegiatan belajar mengajar harus dilakukan dengan cara yang berbeda. Ada yang menggunakan ruang kelas darurat, posko, tenda, bahkan belajar di luar ruangan.
Di SD Katolik Doki, Kabupaten Nagekeo, misalnya. Dua ruang kelas roboh dan empat lainnya mengalami kerusakan berat. Namun para guru tidak memilih menunggu sampai gedung sekolah kembali sempurna.
Mereka lebih dulu mendatangi anak-anak.
Sejak 20 Agustus, guru memberikan pendampingan di sejumlah posko pengungsian. Sekolah kemudian bersama orang tua dan pemerintah setempat membangun tiga posko belajar sederhana menggunakan rangka bambu dan terpal.
Di tempat seperti itulah pelajaran kembali dimulai.
Bukan dengan fasilitas lengkap. Bukan dengan ruang kelas yang nyaman. Tetapi dengan papan tulis sederhana, buku, alat tulis, dan kemauan guru untuk tetap hadir.
Pembelajaran pun disesuaikan dengan kondisi anak. Siswa kelas 1 hingga 3 difokuskan pada kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Sementara kelas tinggi diarahkan memperkuat literasi, numerasi dan materi-materi esensial.
Sebab setelah bencana, anak-anak tidak hanya kehilangan ruang belajar. Sebagian juga membawa rasa takut dan trauma.
Karena itu, pemulihan pendidikan tidak cukup hanya dengan membangun kembali gedung sekolah. Rasa aman anak juga harus dikembalikan.
Data Kemendikdasmen menunjukkan, hingga awal September 2026 sebanyak 1.931 satuan pendidikan dengan 171.476 murid di NTT telah kembali menjalankan pembelajaran. Namun sebagian besar masih menggunakan fasilitas darurat: 1.504 satuan pendidikan belajar di sekolah darurat, 392 menerapkan pembelajaran jarak jauh, dan 35 sudah kembali belajar tatap muka di sekolah.
Pemerintah juga telah mendistribusikan 100 tenda kelas darurat ke sejumlah kabupaten terdampak dan menyiapkan pemulihan fasilitas pendidikan secara bertahap.
Bencana Boleh Menghentikan Gedung, Bukan Masa Depan Anak
Ada pelajaran penting dari kondisi ini.
Pendidikan dalam situasi bencana tidak boleh dipandang sebagai urusan setelah semua masalah selesai. Justru pendidikan harus menjadi bagian dari proses pemulihan sejak awal.
Anak-anak membutuhkan rutinitas. Mereka membutuhkan guru. Mereka membutuhkan ruang untuk bermain, belajar, bertemu teman dan perlahan kembali percaya bahwa keadaan akan membaik.
Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya menghitung berapa sekolah yang rusak.
Yang lebih penting adalah memastikan berapa anak yang sudah kembali belajar, apakah ruang belajarnya aman, apakah gurunya tersedia, dan apakah kondisi psikologis anak benar-benar diperhatikan.
Presiden Prabowo Subianto bahkan kembali mengecek kebutuhan tenda lapangan yang akan digunakan sebagai sekolah darurat bagi anak-anak terdampak gempa di Flores.
Pada akhirnya, pemulihan pendidikan bukan sekadar tentang mendirikan kembali tembok dan atap sekolah.
Ia dimulai dari sesuatu yang lebih sederhana: seorang guru yang datang, membuka buku, menulis di papan tulis, lalu berkata kepada anak-anak—kita belajar lagi hari ini.
Dan dari ruang sederhana itulah, masa depan NTT perlahan dibangun kembali.