Kupang, Avis News — Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti mengungkapkan bahwa kinerja ekspor produk makanan dan minuman (food and beverage) olahan Indonesia masih tertahan di peringkat keempat kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Pernyataan tegas ini disampaikan Wamendag guna mendesak pembenahan ekosistem ekspor nasional secara menyeluruh karena daya saing produk olahan Indonesia dinilai masih kalah jauh dibandingkan negara tetangga seperti Thailand, Vietnam, dan Singapura.

Kendati ekspor produk makanan dan minuman Indonesia berhasil mencatatkan angka impresif mencapai 6,25 miliar dolar AS, capaian tersebut dianggap belum optimal dibanding potensi pasar yang ada. Kementerian Perdagangan mencatat posisi Indonesia masih membuntuti Thailand yang kokoh di puncak ASEAN, disusul Vietnam dan Singapura yang lebih agresif memenetrasi pasar global.

“Ekspor food and Beverage (F&B) kita memang masuk dalam lima besar di ASEAN, tepatnya berada di peringkat keempat dengan nilai mencapai 6,25 miliar dolar AS. Namun, kita harus jujur ​​bahwa posisi ini masih kalah jauh dari Thailand yang memimpin di urutan pertama, disusul Vietnam dan Singapura. Ini menjadi pesan tegas bagi kita semua untuk segera berbenah,” ujar Wamendag Dyah Roro Esti dalam keterangan resminya kepada media di Jakarta.

Wamendag Dyah Roro Esti menegaskan bahwa pemerintah tengah menyiapkan strategi komprehensif guna memperkuat ekosistem ekspor mamin dari hilir ke hulu. Langkah nyata yang disiapkan meliputi kemudahan perizinan, sertifikasi standar kualitas internasional, hingga efisiensi rantai pasok agar biaya logistik para pelaku usaha dapat ditekan secara signifikan.

Salah satu tantangan utama yang menghambat performa ekspor mamin nasional adalah masih minimnya diversifikasi produk bernilai tambah tinggi serta ketatnya regulasi standar keamanan pangan di negara tujuan. Selain itu, branding produk dan pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement) oleh pelaku industri dalam negeri dirasa belum maksimal.

Guna mengejar ketertinggalan dari Thailand dan Vietnam, Kemendag bakal mendorong keterlibatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar dapat menembus pasar ekspor secara masif. Program pendampingan pencocokan bisnis (business matching) dan promosi di pameran dagang internasional disiapkan secara agresif untuk membuka celah pasar baru di kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Eropa.

Sinergi antarkementerian, lembaga, serta asosiasi pengusaha makanan dan minuman dipandang menjadi kunci vital dalam memangkas hambatan teknis ekspor. Pembenahan infrastruktur laboratorium uji mutu dan fasilitasi sertifikasi halal internasional juga menjadi fokus prioritas untuk meningkatkan kepercayaan pembeli global.

Melalui komitmen pembenahan ekosistem ekspor yang terintegrasi ini, pemerintah optimistis posisi Indonesia di industri makanan olahan ASEAN dapat melesat naik ke papan atas. Peningkatan daya saing komoditas olahan diharapkan sanggup mendongkrak perolehan devisa negara sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.