Kupang, Avis News — Para peneliti psikologi dari University of Glasgow merilis studi ilmiah yang mengungkap persepsi visual masyarakat terhadap fitur wajah orang kaya atau sering disebut orang have dibandingkan orang dengan kelas sosial menengah ke bawah pada pertengahan Agustus 2026. Hasil riset sosial tersebut dipublikasikan oleh tim ilmuwan guna membongkar bagaimana stereotip sosial terbentuk di tengah masyarakat, menguji akurasi tebakan status ekonomi berdasarkan impresi pertama, serta memetakan bias psikologis yang memicu prasangka antar-kelas.
Fenomena membedakan tampilan orang have dengan kelompok miskin kini menjadi perbincangan hangat akibat stereotip visual yang kerap beredar di media sosial. Riset menemukan bahwa persepsi publik mengenai kelas ekonomi seseorang sangat dipengaruhi oleh kombinasi bentuk wajah, ekspresi emosional yang terpancar, hingga tingkat kesegaran kulit.
Para ahli menegaskan bahwa fitur fisik yang dipersepsikan sebagai cerminan status kaya atau miskin sejatinya lahir dari konstruksi sosial dan stereotip emosional jangka panjang. Pengalaman hidup, tingkat stres, serta akses terhadap perawatan kesehatan dan nutrisi menjadi faktor pendukung yang membentuk impresi raut wajah seseorang di mata publik.
Berdasarkan hasil analisis, raut wajah orang have cenderung dipersepsikan memiliki struktur wajah yang lebih sempit, simetris, serta bentuk mulut yang tertarik ke atas menyerupai senyuman. Ciri fisik tersebut sering kali memancarkan kesan hangat, rileks, dan dapat dipercaya sehingga secara tidak langsung dinilai mencerminkan kesejahteraan finansial.
Sebaliknya, bentuk wajah kelompok kelas bawah sering kali dipersepsikan memiliki struktur yang lebih lebar dengan sudut mulut yang cenderung menurun. Ekspresi tersebut acap kali disalahartikan sebagai tanda pencetus beban hidup atau ketegangan emosional, ditambah dengan perbedaan nada warna kulit yang dinilai kurang segar akibat terbatasnya akses fasilitas perawatan.
Meskipun persepsi visual ini berkembang pesat, para peneliti mengingatkan agar masyarakat tidak serta-merta menghakimi karakter atau kapasitas seseorang hanya dari penampilan luarnya. Penilaian berbasis impresi raut wajah terbukti rawan memicu diskriminasi implisit serta stereotip yang menyesatkan dalam kehidupan sosial maupun profesional.
Melalui publikasi riset psikologi ini, masyarakat diharapkan mampu secara bijak mengikis bias sosial dan lebih objektif dalam menilai sesama. Menghentikan prasangka berdasarkan tampilan fisik dipastikan menjadi kunci penting untuk membangun interaksi sosial yang berkeadilan dan inklusif.