Kupang, Avis News — Perpindahan sejumlah politisi dari partai lain ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mulai memperlihatkan satu pola: PSI tidak lagi sekadar mengandalkan citra sebagai partai yang dihuni anak muda, tetapi sedang membangun kekuatan politik dengan merekrut tokoh-tokoh yang telah memiliki pengalaman, jaringan, dan basis suara.

Sejumlah nama senior seperti Ahmad Ali, Bestari Barus dan Rusdi Masse Mappasessu tercatat telah berpindah dari NasDem ke PSI. Perpindahan tersebut menjadi bagian dari dinamika politik menuju Pemilu 2029.

Fenomena ini menarik jika dibaca lebih jauh.

Dalam politik elektoral, yang berpindah bukan hanya nama dalam daftar keanggotaan. Bersama seorang politisi biasanya ikut bergerak jaringan relawan, struktur daerah, hubungan dengan konstituen, pengalaman kampanye dan kemampuan mengonsolidasikan suara.

Karena itu, ketika politisi berpengalaman masuk ke sebuah partai, keuntungan terbesar bukan sekadar bertambahnya jumlah kader. Yang dipertaruhkan adalah seberapa besar jaringan politik tersebut mampu dikonversi menjadi suara pada Pemilu 2029.

PSI tentu membutuhkan hal itu.

Pada Pemilu 2024, PSI belum berhasil memperoleh kursi DPR RI. Karena itu, menghadapi Pemilu 2029, partai ini membutuhkan lompatan elektoral yang signifikan.

Rekrutmen tokoh berpengalaman dapat menjadi jalan untuk memperkuat mesin politik. Namun strategi tersebut juga memiliki risiko.

Bukan Sekadar Perpindahan Kartu Anggota

PSI dibangun dengan identitas sebagai partai yang menawarkan wajah politik baru. Tetapi semakin banyak politisi senior dari partai lama yang bergabung, semakin besar pula pertanyaan publik.

Apakah PSI sedang mengubah politik Indonesia, atau justru sedang mengikuti pola politik lama dengan wajah baru?

Pertanyaan itu bukan persoalan mengenai hak seseorang untuk berpindah partai. Pindah partai merupakan bagian dari dinamika politik.

Persoalannya adalah identitas institusional PSI, Jika tokoh-tokoh lama hanya ditempatkan sebagai mesin elektoral, PSI berisiko kehilangan diferensiasi. Sebaliknya, jika pengalaman politisi senior tersebut dipadukan dengan kaderisasi dan gagasan baru, perpindahan itu justru bisa menjadi kekuatan.

Persoalannya bukan senior atau junior.

Persoalannya adalah apakah mereka datang untuk membangun partai atau sekadar menggunakan partai sebagai kendaraan politik berikutnya.

Efek Domino Bisa Menjadi Kekuatan, Bisa Juga Menjadi Beban Jika gelombang perpindahan terus berlanjut, PSI memperoleh keuntungan strategis. Partai mendapatkan tokoh dengan pengalaman politik lokal dan nasional yang dapat memperluas jaringan.

Namun ada efek sebaliknya.

Jika publik melihat PSI sebagai tempat berkumpulnya politisi dari berbagai partai tanpa garis politik yang jelas, partai dapat kehilangan karakter. Partai yang terlalu cepat membesar juga menghadapi persoalan baru: bagaimana menyatukan kepentingan orang-orang yang datang dari latar belakang politik berbeda.

Pertaruhan Sesungguhnya Ada di 2029, Pemilu 2029 akan menjadi ujian paling konkret. Popularitas tokoh tidak otomatis berubah menjadi suara partai. Begitu pula perpindahan elite tidak otomatis membuat struktur akar rumput ikut berpindah.

PSI harus membuktikan setidaknya tiga hal.

  • Pertama, kaderisasi.
    Tokoh baru harus berjalan bersama kader lama, bukan menggantikannya.
  • Kedua, organisasi.
    Jaringan politik harus dibangun sampai tingkat daerah dan akar rumput, bukan berhenti di struktur pusat.
  • Ketiga, gagasan.
    PSI harus menjelaskan apa yang membedakannya dari partai-partai lain.

Sebab jika seluruh partai akhirnya menjadi tempat berkumpulnya politisi lintas generasi dan latar belakang, maka pembeda utama hanya tersisa pada nama.

Dan politik tidak cukup dibangun dengan nama. 
PSI Sedang Membeli Pengalaman atau Membangun Masa Depan?

Gelombang perpindahan kader ini pada akhirnya menjadi ujian bagi PSI sendiri. Mendatangkan politisi berpengalaman adalah strategi yang masuk akal. Tetapi pengalaman harus diterjemahkan menjadi organisasi, kaderisasi dan suara pemilih, bukan sekadar daftar nama besar.

PSI memiliki peluang untuk menggabungkan dua kekuatan: energi politik generasi baru dengan pengalaman politisi lama. Jika berhasil, perpindahan kader bisa menjadi fondasi menuju partai nasional yang lebih kuat.  Jika gagal, PSI justru berisiko kehilangan identitas awalnya sebelum berhasil mencapai target elektoral.

Pada akhirnya, yang menentukan bukan berapa banyak politisi yang masuk ke PSI, tetapi berapa banyak pemilih yang ikut percaya.