Kupang, Avis News — Menjadi polisi berarti menjalankan tugas untuk menjaga keamanan. Namun bagi Ipda Yunus Labba, pengabdian ternyata tidak berhenti di balik seragam.

Kapolsek Amarasi Timur itu bersama istrinya telah merawat anak-anak yatim piatu sejak 2007. Waktu berjalan, jumlah anak yang mereka dampingi terus bertambah hingga kini mencapai 119 anak.

Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa kepedulian sosial tidak selalu lahir dari mereka yang memiliki banyak. Kadang justru tumbuh dari orang yang memilih berbagi meski dirinya sendiri harus berjuang.

Dalam upaya memenuhi kebutuhan anak-anak tersebut, Yunus bahkan disebut pernah menggadaikan SK pengangkatannya sebagai polisi dan beberapa kali meminjam uang dari bank. Total utangnya disebut telah mendekati Rp2 miliar.

Angka itu tentu bukan angka kecil.

Di satu sisi, ia memperlihatkan besarnya kebutuhan yang harus ditanggung ketika 119 anak berada dalam satu lingkungan pengasuhan. Di sisi lain, kisah tersebut juga membuka pertanyaan yang lebih luas: sampai sejauh mana beban pemenuhan kebutuhan anak-anak yatim harus ditanggung secara pribadi oleh seorang pengasuh?

Bukan Sekadar Memberi Makan

Merawat 119 anak bukan pekerjaan sehari dua hari.

Ada kebutuhan makanan, pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, pakaian hingga kebutuhan psikologis. Lebih dari itu, anak-anak tersebut membutuhkan lingkungan yang membuat mereka merasa tetap memiliki keluarga dan masa depan.

Di sinilah kisah Yunus menjadi penting.

Apa yang dilakukan bersama istrinya menunjukkan bahwa perlindungan terhadap anak bukan hanya urusan pemerintah atau lembaga sosial. Masyarakat juga memiliki ruang untuk ikut mengambil bagian.

Namun apresiasi tidak boleh berhenti pada cerita heroik seseorang yang rela berutang.

Negara dan masyarakat seharusnya hadir agar pengabdian seperti ini tidak berjalan sendirian.

Jika benar terdapat 119 anak yang membutuhkan pengasuhan dan pemenuhan kebutuhan secara berkelanjutan, maka dukungan terhadap mereka semestinya dibangun secara lebih sistematis.

Bantuan pemerintah, dunia usaha, lembaga keagamaan, komunitas dan masyarakat dapat diarahkan untuk memastikan kebutuhan anak-anak tersebut terpenuhi secara berkelanjutan.

Jangan Biarkan Kebaikan Berjalan Sendirian

Kisah Ipda Yunus mengingatkan kita pada satu hal sederhana: anak-anak tidak boleh menjadi korban keadaan hanya karena mereka kehilangan orang tua.

Mereka tetap berhak tumbuh, belajar dan memiliki masa depan yang layak.

Apa yang dilakukan Yunus dan istrinya patut dihargai. Tetapi justru karena itulah, dukungan yang lebih luas diperlukan.

Sebab kebaikan akan jauh lebih kuat ketika tidak dikerjakan sendirian.

Dan untuk 119 anak itu, yang paling penting bukan siapa yang paling banyak berkorban.

Yang paling penting adalah memastikan mereka tidak merasa sendirian menghadapi masa depan.