Kupang, Avis News — Industri teknologi global tengah menyaksikan lonjakan pesat dalam produksi dan adopsi robot humanoid berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Berbagai perusahaan robotika dunia kini berlomba memasarkan produk yang dirancang untuk membantu beragam pekerjaan manusia, mulai dari tugas rumah tangga hingga layanan publik.

Laporan dari Precedence Research mencatat tren pertumbuhan yang sangat masif. Nilai penjualan robot humanoid AI di tingkat global telah menembus angka Rp32,65 triliun pada 2025 dan diperkirakan mencapai Rp38,32 triliun pada 2026. Angka transaksi ini diproyeksikan bakal terus melesat hingga menyentuh Rp137,51 triliun pada 2034.

Dari sisi volume unit, data Rest of World menunjukkan lebih dari 14 ribu unit robot humanoid terjual sepanjang 2025. Menariknya, hampir 90 persen dari total penjualan tersebut dikuasai oleh manufaktur asal China, dengan Unitree (5.500 unit) dan Agibot (5.168 unit) menduduki posisi puncak pasar global.

Di atas kertas, pesatnya komersialisasi robot humanoid berbasis AI menawarkan efisiensi tinggi serta solusi atas kelangkaan tenaga kerja di berbagai sektor industri maupun domestik.

Namun dari sudut pandang ketenagakerjaan dan lanskap ekonomi global, fenomena ini menghadirkan tantangan baru yang cukup kompleks.

Penjualan unit komersial seperti Unitree G1 (Rp239,77 juta), 1X NEO (Rp355,22 juta), hingga AgiBot X2 (Rp430,53 juta) menandakan bahwa aksesibilitas teknologi ini makin dekat dengan konsumen serta pelaku usaha. Ketika kemampuan robot melipat pakaian, membersihkan ruangan, hingga menjadi resepsionis makin teruji, kekhawatiran terkait pergeseran peran tenaga kerja manusia kian nyata.

Persoalannya kini bukan lagi sekadar mengagumi kecanggihan teknologi, melainkan bagaimana kesiapan regulasi serta adaptasi sumber daya manusia dalam menghadapi gelombang otomatisasi ini.

Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, perlu mencermati masuknya penetrasi teknologi ini secara bijak. Penguatan keahlian tenaga kerja lokal serta penyusunan batas etika penggunaan AI menjadi krusial agar kehadiran otomatisasi tidak mendisrupsi pasar kerja secara drastis.

Pada akhirnya, lompatan teknologi robotika adalah sebuah keniscayaan. Namun memastikan bahwa kemajuan AI hadir untuk melengkapi bukan menyingkirkan peran manusia adalah tugas utama bersama.