Kupang, Avis News — Aktris dan aktivis pendidikan Maudy Ayunda akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada publik menyusul gelombang kritik dan hujatan tajam dari warganet akibat konten video opini yang diunggahnya.

Kontroversi ini bermula dari video bertajuk Mindfulness in the Age of Bad News yang diunggah Maudy pada 21 Agustus 2026. Dalam konten tersebut, ia membagikan pengalaman pribadinya yang merasa kewalahan secara emosional dan mengalami overthinking akibat derasnya paparan berita buruk di Indonesia mulai dari bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla), gempa bumi, hingga berbagai kebijakan pemerintah yang tidak tepat sasaran.

Untuk menjaga kesehatan mentalnya yang sensitif, Maudy menyarankan langkah pembatasan atau "diet" paparan informasi harian agar tidak merasa patah semangat atau disfungsional.

REAKSI KERAS PUBLIK DAN CAP TONE-DEAF

Kendati berniat membagikan kiat kesehatan mental, pandangan tersebut justru memicu reaksi keras dari warganet. Sebagian besar menilai saran untuk menjauh atau menyaring berita negatif sebagai bentuk sikap yang tidak peka (tone-deaf).

Netizen berargumen bahwa berbagai peristiwa buruk tersebut bukanlah sekadar informasi yang bisa dimatikan tombolnya sesuka hati, melainkan realitas hidup dan ancaman nyata yang harus dihadapi langsung oleh masyarakat di lapangan, seperti warga yang terdampak langsung oleh bencana.

“Bagi banyak dari kita, ini bukan sekadar berita. Ini adalah realitas hidup kami... tidak bisa diabaikan begitu saja,” kritik salah satu warganet di kolom komentar.

KLARIFIKASI DAN PERMOHONAN MAAF TERBUKA

Menanggapi kritik yang terus mengalir, Maudy Ayunda akhirnya memberikan respons melalui komentar yang disematkan pada unggahannya, Minggu (13/9/2026). Ia secara terbuka mengakui adanya sudut pandang krusial yang terlewat dan belum cukup direfleksikan dalam video aslinya.

“Being able to step away from the news is itself a privilege. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya. Aku minta maaf karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di videonya,” tulis Maudy.

Ia menegaskan bahwa konsep mindfulness yang diterapkannya sama sekali tidak dimaksudkan sebagai pembenaran untuk bersikap cuek, menutup mata, atau mengabaikan realitas penderitaan orang lain. Sebaliknya, ia menilai kesadaran diri justru membantu seseorang agar tetap peduli dan peka terhadap kondisi sekitar dengan kepala dingin.

“Aku sama sekali tidak ingin mindfulness menjadi alasan untuk tidak peduli atau menjauh dari realita yang ada. Apalagi ajakan untuk berdiam diri, ataupun melihat seolah keadaan baik-baik saja,” tegasnya.

Di atas kertas, ruang publik digital kerap kali menjadi arena gesekan antara perspektif figur publik yang mengutamakan batasan kesehatan mental dan realitas ekonomi-sosial masyarakat akar rumput yang hidup di bawah tekanan langsung krisis.

Tetapi di balik badai kritik tersebut, kesediaan Maudy untuk mendengarkan, mengevaluasi diri, dan menyampaikan permintaan maaf terbuka menjadi pengingat bahwa empati sosial dan pengakuan atas hak-hak istimewa (privilege) tetap menjadi fondasi utama dalam merespons dinamika publik yang majemuk.