Kupang, Avis News — Lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) berhasil menciptakan inovasi teknologi medis terkini berupa rompi pintar yang dirancang khusus untuk memantau sekaligus meredakan tantrum pada anak penyandang Autism Spectrum Disorder (ASD). Karya inovatif bernama ADAPT-V ini hadir sebagai solusi non-farmakologis yang dirancang untuk membantu para orang tua dan pendamping dalam menangani kondisi darurat emosional anak secara lebih cepat, terukur, dan aman.

Inovasi ini memanfaatkan pendekatan sensorik terpadu yang menggabungkan analisis sinyal biologis tubuh dengan modul terapi relaksasi otomatis.

Cara Kerja Teknologi Sensorik dan Fitur Penenang Otomatis

Rompi pintar ADAPT-V dilengkapi dengan rangkaian sensor canggih yang mampu mendeteksi perubahan parameter fisiologis anak saat mulai mengalami ketidaknyamanan emosional. Sensor tersebut bekerja secara real-time untuk memantau lonjakan detak jantung serta perubahan suhu tubuh yang menjadi indikator awal munculnya fase tantrum. Begitu sistem mendeteksi adanya kejanggalan indikator fisik, rompi akan secara otomatis mengirimkan sinyal peringatan dini (early warning) kepada ponsel orang tua atau pengasuh melalui aplikasi yang terintegrasi.

Tidak hanya berfungsi sebagai alat pemantau, rompi ini juga dibekali sistem kompresi tekanan lembut (deep pressure therapy) serta modul getaran terapeutik yang disesuaikan untuk memberikan sensasi pelukan hangat. Fitur ini terbukti secara medis mampu merangsang sistem saraf parasimpatis, membantu menenangkan sistem saraf yang tegang, serta menurunkan tingkat kecemasan anak secara efektif tanpa bergantung pada obat-obatan kimia.

Dampak Sosial dan Potensi Pengembangan Terapi Autisme

Pengembangan ADAPT-V oleh tim mahasiswa UB ini mendapat apresiasi luas dari kalangan akademisi, praktisi kesehatan, hingga komunitas pemerhati autisme. Kehadiran teknologi ini dinilai mampu memberikan dampak sosial yang signifikan, terutama dalam meningkatkan kualitas hidup anak penyandang ASD serta mengurangi tingkat stres dan kelelahan mental (caregiver burnout) yang kerap dialami oleh para orang tua.

Tim pengembang berharap inovasi rompi pintar ini dapat terus disempurnakan melalui uji klinis yang lebih luas, sehingga kelak dapat diproduksi secara masal dan dijangkau oleh masyarakat umum serta lembaga pendidikan inklusif di seluruh Indonesia.

Karsa inovatif mahasiswa Universitas Brawijaya membuktikan besarnya peran teknologi bagi kemanusiaan; kehadiran rompi pintar ADAPT-V menjadi angin segar dalam penguatan sarana terapi dan inklusivitas anak autis di Indonesia.