Kupang, Avis News — Politik Indonesia sedang berhadapan dengan perubahan cara pandang generasi muda. Mereka bukan lagi sekadar kelompok yang menjadi sasaran kampanye setiap lima tahun, tetapi semakin aktif mengikuti isu politik, menilai kinerja pemerintah dan lembaga negara, hingga menentukan partai berdasarkan rekam jejak.

Data yang ditampilkan dalam sejumlah survei Muda Bicara ID dan Indikator Politik Indonesia memperlihatkan kecenderungan tersebut. Sebanyak 49 persen anak muda disebut cukup sering mengikuti perkembangan isu politik melalui media sosial, sementara 42,8 persen mengaku sangat sering mengikutinya. Hanya 7,5 persen yang jarang dan 0,7 persen yang tidak pernah.

Angka itu menunjukkan satu hal penting: politik telah masuk ke ruang kehidupan sehari-hari generasi muda.

Namun, meningkatnya perhatian terhadap politik tidak otomatis berarti anak muda percaya begitu saja kepada seluruh institusi politik.

LAPANGAN KERJA MENJADI UJIAN

Bagi generasi muda, persoalan yang paling mendesak justru sangat konkret.

Lapangan kerja berada di posisi teratas dengan 39,05 persen, disusul pemberantasan korupsi 16,8 persen, pendidikan berkualitas 9,4 persen, kesehatan mental 9,2 persen, serta kedaulatan energi dan pangan 7,9 persen.

Ini menjadi pesan penting bagi pemerintah maupun partai politik. 

Anak muda tidak hanya membutuhkan narasi tentang pertumbuhan ekonomi. Mereka membutuhkan pekerjaan, pendidikan yang berkualitas, biaya hidup yang masuk akal, lingkungan yang sehat, serta kepastian bahwa masa depan mereka tidak ditentukan oleh koneksi politik semata. Anak muda mulai menilai politik dari kinerja, lapangan kerja, dan dampak nyata kebijakan.

Dengan kata lain, ukuran keberhasilan politik semakin bergeser dari seberapa besar janji dibuat menjadi seberapa nyata dampaknya dirasakan.

KEPERCAYAAN ADA, TETAPI TIDAK BERSIFAT BUTA

Survei juga memperlihatkan bahwa tingkat kepercayaan terhadap sejumlah lembaga negara masih relatif kuat.

TNI dan Presiden berada di antara lembaga dengan tingkat kepercayaan tinggi. Namun, lembaga politik seperti DPR dan partai politik menghadapi tantangan lebih besar dalam membangun kepercayaan publik.

Kondisi ini patut dibaca sebagai peringatan.

Generasi muda semakin kritis dalam membandingkan janji dengan kinerja, citra dengan integritas, serta komunikasi politik dengan kenyataan di lapangan.

Mereka bisa memberikan dukungan, tetapi dukungan tersebut tidak permanen.

PARTAI DITUNTUT MEMBUKTIKAN KINERJA

Dalam penilaian anak muda terhadap kinerja partai politik di parlemen, Gerindra berada di posisi teratas dengan 26,7 persen, disusul PDI Perjuangan 13,6 persen, Demokrat 11,1 persen dan PAN 7,2 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa generasi muda mulai menggunakan ukuran yang lebih pragmatis dalam melihat partai: apa yang dikerjakan dan seberapa dekat dengan persoalan masyarakat.

Ini sekaligus menjadi tantangan bagi partai politik.

Membangun popularitas di media sosial mungkin relatif mudah. Namun mempertahankan kepercayaan publik membutuhkan pekerjaan yang jauh lebih sulit: konsistensi, transparansi, kaderisasi dan keberanian mengambil keputusan yang benar meski tidak selalu populer.

GENERASI MUDA BUKAN SEKADAR PEMILIH

Di sinilah persoalan politik Indonesia ke depan.

Generasi muda tidak semestinya hanya diposisikan sebagai angka dalam survei elektabilitas atau suara dalam bilik pemilu. Mereka harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan dan bagian dari proses pengambilan keputusan publik.

Pemerintah memiliki banyak program besar. Tetapi program sebesar apa pun akan kehilangan makna jika tidak ditopang tata kelola yang baik, sistem yang kuat, data yang akurat dan pelaksanaan yang konsisten.

Begitu pula partai politik. Sebagus apa pun slogan perubahan yang dibawa, publik pada akhirnya akan bertanya: apa yang benar-benar berubah?

Pesan dari data ini cukup jelas generasi muda sedang melihat, Mereka sedang menilai. Dan pada waktunya, mereka akan menentukan siapa yang layak dipercaya.

Karena itu, tantangan politik Indonesia bukan sekadar memenangkan suara anak muda, melainkan memenangkan kembali kepercayaan mereka melalui kerja nyata.