Kupang, Avis News — Gempa bumi tidak hanya merobohkan rumah dan fasilitas umum. Ia juga bisa mengganggu masa depan anak-anak muda yang sedang menempuh pendidikan.

Karena itu, keputusan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) membebaskan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi 5.000 mahasiswa terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur menjadi kabar penting di tengah proses pemulihan Flores.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan kebijakan tersebut saat meninjau kondisi pascabencana di Kabupaten Manggarai, Rabu, 26 Agustus 2026.

Untuk tahap awal, pembebasan UKT diberikan selama satu semester. Pemerintah juga membuka kemungkinan memperpanjang bantuan apabila kondisi mahasiswa dan keluarganya masih membutuhkan dukungan.

Bencana Jangan Sampai Memutus Kuliah

Di sinilah persoalannya menjadi lebih besar daripada sekadar biaya kuliah.

Bagi keluarga yang rumahnya rusak, kehilangan sumber pendapatan, atau masih harus bertahan di pengungsian, membayar UKT bisa berubah menjadi beban yang sangat berat. Pilihannya pun kadang sederhana: memenuhi kebutuhan hidup hari ini atau membayar biaya pendidikan untuk masa depan.

Padahal, pendidikan justru menjadi salah satu jalan keluar dari kemiskinan pascabencana.

Maka pembebasan UKT 5.000 mahasiswa bukan hanya soal bantuan finansial. Ini adalah upaya agar gempa tidak ikut merusak masa depan generasi muda NTT.

Pemerintah menyebut data 5.000 mahasiswa tersebut merupakan data awal yang telah disampaikan. Artinya, angka itu masih bisa berubah sesuai proses pemutakhiran data dan kebutuhan di lapangan.

Dan ini penting.

Jangan sampai mahasiswa terdampak yang sebenarnya membutuhkan bantuan justru tertinggal hanya karena persoalan administrasi, pendataan, atau keterlambatan koordinasi antara kampus dan pemerintah.

5.000 Mahasiswa Baru Awal

Kemdiktisaintek juga menyatakan siap membantu mahasiswa asal NTT yang sedang berkuliah di luar wilayah terdampak. Selain pembebasan UKT, pemerintah bersama perguruan tinggi juga mendorong dukungan lain, termasuk bantuan bagi keluarga mahasiswa serta dukungan psikologis seperti trauma healing.

Ini langkah yang patut diapresiasi.

Namun pemerintah dan perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada pengumuman.

Yang ditunggu mahasiswa adalah kepastian. Siapa yang menerima? Bagaimana mekanismenya? Kapan pembebasan UKT benar-benar tercatat di sistem kampus? Bagaimana nasib mahasiswa yang belum masuk dalam data awal?

Pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab secara terbuka.

Sebab dalam situasi bencana, bantuan yang baik bukan hanya bantuan yang besar. Bantuan yang baik adalah bantuan yang cepat, tepat sasaran dan tidak membuat masyarakat harus berulang kali membuktikan bahwa mereka sedang kesusahan.

Pendidikan Harus Tetap Berjalan

Gempa Flores telah membawa kerusakan yang tidak sedikit. Pemerintah daerah sebelumnya melaporkan puluhan korban meninggal dan puluhan ribu warga mengungsi di Manggarai. Sejumlah fasilitas kesehatan juga terdampak.

Dalam kondisi seperti itu, menjaga mahasiswa tetap berada di jalur pendidikan adalah investasi pemulihan jangka panjang.

Rumah bisa dibangun kembali. Jalan bisa diperbaiki. Fasilitas publik bisa direhabilitasi.

Tetapi jika seorang mahasiswa terpaksa berhenti kuliah karena keluarganya tidak mampu membayar UKT setelah bencana, yang hilang bukan hanya satu semester. Bisa jadi sebuah masa depan.

Karena itu, pembebasan UKT untuk 5.000 mahasiswa harus menjadi awal dari kebijakan pemulihan pendidikan yang lebih menyeluruh.

NTT sedang membangun kembali. Jangan biarkan anak-anak mudanya ikut kehilangan masa depan.