Kupang, Avis News — Keprihatinan mendalam atas memudarnya kepiawaian berbahasa daerah di kalangan generasi muda memicu langkah konkrit dari Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur.

Bupati TTU Falentinus Delasalle Kebo mendorong penggunaan Bahasa Dawan agar tidak sekadar menjadi bahasa komunikasi di rumah, melainkan secara resmi diperkuat dan diintegrasikan ke dalam lingkungan sekolah.

Langkah ini diambil meny menyusul temuan di lapangan yang menunjukkan makin banyaknya siswa tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang tidak lagi mahir atau bahkan tidak bisa berbahasa Dawan.

Sekolah Harus Ambil Peran dalam Pelestarian

Di sinilah peran lembaga pendidikan formal menjadi sangat krusial dalam menyelamatkan warisan tutur lokal.

Bupati TTU menekankan bahwa sekolah tidak boleh melupakan aspek pelestarian nilai-nilai kearifan lokal di tengah arus modernisasi. Bahasa Dawan dipandang sebagai pilar utama identitas budaya masyarakat Atoni Pah Meto di Timor Barat.

Oleh karena itu, pihak sekolah diminta untuk mengambil peran aktif dalam menciptakan ruang pembelajaran serta interaksi harian yang membiasakan anak didik menuturkan bahasa ibu mereka.

Jika generasi muda kehilangan bahasanya, maka identitas dan akar budaya daerah berisiko runtuh secara perlahan.

Dorong Regulasi dan Masuk Kurikulum Mulok

Guna memastikan kebijakan ini memiliki payung hukum yang kuat dan dapat diterapkan secara menyeluruh, Pemkab TTU tengah mendorong penyusunan regulasi daerah.

Pemerintah daerah membuka peluang integrasi Bahasa Dawan ke dalam kurikulum muatan lokal (mulok) di jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Melalui regulasi tersebut, setiap sekolah nantinya memiliki dasar teknis dan materi ajar baku untuk mengajarkan Bahasa Dawan kepada para siswa.

Langkah ini diharapkan dapat memacu kembali kebanggaan generasi muda dalam menggunakan bahasa daerah tanpa mengesampingkan penguasaan Bahasa Indonesia dan bahasa asing.

Peluang Global dan Keseimbangan Budaya

Di saat yang bersamaan dengan upaya penguatan akar budaya lokal, Pemkab TTU juga tetap berupaya memperluas wawasan internasional generasi mudanya.

Pemerintah daerah membuka peluang bagi siswa SMP di TTU untuk mengikuti program pertukaran pelajar ke luar negeri, salah satunya ke Australia.

Kebijakan ini mencerminkan visi pendidikan yang seimbang: berakar kuat pada tradisi dan identitas daerah, tetapi tetap adaptif serta berdaya saing di tingkat global.

Dengan bekal identitas budaya yang kokoh, anak-anak muda TTU diharapkan siap melangkah ke panggung internasional tanpa kehilangan jati diri aslinya.