Kupang, Avis News — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur merilis laporan indikator strategis perkembangan ekonomi daerah kondisi April–Mei 2026 dalam gelaran konferensi pers daring dari Kupang pada Rabu, 19 Agustus 2026. Penyampaian data berkala yang dipimpin langsung oleh Kepala BPS NTT Matamira B. Kale tersebut dilakukan untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai tingkat inflasi, daya beli petani, kinerja neraca perdagangan luar negeri, hingga kebangkitan sektor pariwisata dan transportasi udara di wilayah NTT.

Dalam pemaparannya, BPS mengumumkan bahwa Provinsi Nusa Tenggara Timur mengalami inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 2,76 persen pada Mei 2026 dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 110,60. Waingapu mencatatkan inflasi tahunan tertinggi di NTT yakni sebesar 3,71 persen (IHK 112,64), sementara Kabupaten Timor Tengah Selatan mencatatkan inflasi terendah sebesar 0,95 persen (IHK 110,82). Kendati demikian, NTT mencatatkan deflasi secara month-to-month (m-to-m) sebesar 0,26 persen pada Mei 2026, meski inflasi kalender (year-to-date) tetap berada di angka 1,52 persen.

Daya beli dan kesejahteraan masyarakat petani di NTT menunjukkan sinyal penguatan yang ditandai dengan kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) Mei 2026 menjadi 99,86 atau naik 0,45 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan ini dipicu oleh pertumbuhan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 0,52 persen yang melampaui kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,06 persen. Pada periode yang sama, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) turut terangkat 0,66 persen menjadi 104,86, memberikan angin segar bagi sektor agraris daerah di tengah dinamika pasokan pangan.

Kinerja perdagangan luar negeri Nusa Tenggara Timur periode Januari–April 2026 mencatatkan akumulasi surplus neraca perdagangan mencapai US$ 18,48 juta. Pencapaian positif tersebut disokong oleh surplus sektor nonmigas sebesar US$ 17,32 juta serta kontribusi sektor migas senilai US$ 1,16 juta. Pada April 2026, nilai ekspor NTT tercatat sebesar US$ 5,98 juta dengan komoditas perhiasan/permata memberikan kontribusi share terbesar (13,76%), sedangkan nilai impor berada di level US$ 0,43 juta yang didominasi oleh impor biji-bijian berminyak (54,65%).

Geliat ekonomi NTT kian terdongkrak oleh pemulihan signifikan pada sektor pariwisata daerah sepanjang April 2026. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang berhasil menyentuh angka 40,97 persen, melonjak 8,87 persen secara tahunan (y-on-y) dan naik tajam 23,10 persen secara bulanan (m-to-m). Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) melalu pintu masuk utama menguat pesat hingga 31,97 persen (y-on-y) dengan total 26.604 kunjungan, sementara perjalanan wisatawan nusantara menuju NTT terdata sebanyak 812.472 perjalanan.

Sektor konektivitas dan transportasi turut menopang mobilitas ekonomi dengan kenaikan jumlah penerbangan angkutan udara sebesar 0,38 persen pada April 2026 dibanding Maret 2026, atau naik 3,26 persen secara tahunan. Bandara El Tari Kupang menjadi penyumbang andil penerbangan terbesar mencapai 35,14 persen, disusul Bandara Komodo Labuan Bajo sebesar 27,35 persen. Kinerja positif juga ditunjukkan oleh sektor angkutan laut yang melayani 7.440 pelayaran pada April 2026, tumbuh pesat 31,91 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Mencermati gabungan data inflasi yang terkendali, penguatan NTP, surplus neraca perdagangan, hingga kebangkitan pariwisata ini, BPS optimistis stabilitas ekonomi Nusa Tenggara Timur berada pada jalur pemulihan yang solid. Sinergi seluruh pihak dalam menjaga pasokan pangan, memperkuat rantai pasok daerah, serta memaksimalkan potensi pariwisata dinilai menjadi pilar utama untuk mempertahankan tren pertumbuhan inklusif hingga akhir tahun 2026.