Kupang, AVis News — Amerika Serikat mulai serius membidik helium-3 di Bulan yang berpotensi menjadi "harta karun" dengan nilai teoritis mencapai 20 kuadriliun dolar AS atau setara Rp355.120 kuadriliun.
Nilai tersebut dihitung berdasarkan harga pasar yang disebut perusahaan penambangan Bulan asal Seattle, Interlune, yang menargetkan dapat memulai eksperimen penggalian paling cepat pada 2028.
Chief Technology Officer Interlune, Gary Lai, menyebut sekitar 1 miliar kilogram helium-3 diperkirakan terdapat dalam tiga meter tanah Bulan, dengan harga sekitar 20 juta dolar AS per kilogram.
Rencana Penambangan 2028
Langkah ini diambil oleh Interlune, perusahaan start-up penambangan antariksa swasta yang didukung pendanaan serta kontrak resmi dari NASA.
Interlune berencana menguji coba sistem ekstraksi tanah Bulan (regolit) berbasis robotik dan pengolahan kriogenik paling lambat pada 2028.
Langkah tersebut digencarkan karena helium-3 sangat langka di Bumi hanya mencakup 0,000137 persen dari total helium akibat terhalang oleh medan magnet dan atmosfer.
Sebaliknya, permukaan Bulan yang terpapar angin Matahari selama miliaran tahun tanpa penghalang menyimpan cadangan isotop ini secara berlimpah.
Manfaat Langsung bagi Masyarakat
Meskipun penambangan dilakukan di ruang angkasa, pemanfaatan helium-3 berdampak langsung pada teknologi harian publik.
Isotop ini berpotensi menjadi bahan bakar utama reaktor fusi nuklir yang aman dan bebas limbah radioaktif berbahaya, penyokong pendingin ekstrem pada komputer kuantum, hingga meningkatkan presisi pencitraan medis (Magnetic Resonance Imaging/MRI) di rumah sakit.
Dari Fantasi Menjadi Bisnis Nyata
Gagasan ini sempat dianggap sebagai fantasi oleh fisikawan Oxford, Frank Close, pada 2007 karena tantangan teknis dan biaya operasi yang sangat besar.
Namun, pesatnya perkembangan industri luar angkasa komersial kini mendorong sejumlah perusahaan kembali mengejar rencana tersebut.
Kendati demikian, proyek ini menghadapi tantangan regulasi tata kelola sumber daya antariksa serta risiko pemborosan dana jika teknologi ekstraksi mengalami kendala di medan Bulan yang ekstrem.
Dampaknya Bagi Masa Depan Energi
Ambisi menambang Bulan bukan lagi sekadar perlombaan teknologi antariksa, melainkan upaya mencari alternatif energi bersih serta penyokong ekonomi berbasis teknologi tinggi untuk peradaban manusia.
Pemerintah dan komunitas internasional kini dituntut memastikan bahwa pemanfaatan sumber daya luar angkasa berjalan secara adil, akuntabel, serta memberikan kebermanfaatan nyata bagi masyarakat luas.
Ketika Bumi mulai kehabisan sumber daya langka, Bulan kini dipandang bukan sekadar satelit malam, melainkan jawaban atas kebutuhan energi dan teknologi masa depan.