Kupang, Avis News — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membawa kemudahan dalam berbagai aktivitas, tetapi di balik teknologi tersebut terdapat kebutuhan sumber daya yang tidak kecil. Salah satunya adalah air yang digunakan dalam ekosistem pusat data.
Pusat data membutuhkan sistem pendingin untuk menjaga server tetap beroperasi pada suhu aman. Selain penggunaan langsung untuk pendinginan, konsumsi air juga dapat muncul secara tidak langsung dari proses pembangkitan listrik yang memasok kebutuhan pusat data.
Kebutuhan Air Terus Meningkat
Laporan para peneliti Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan konsumsi air pusat data dunia dapat meningkat hingga 9,3 triliun liter per tahun pada 2030. Pada periode yang sama, konsumsi listrik pusat data juga diproyeksikan meningkat tajam seiring pertumbuhan penggunaan AI.
Besarnya angka tersebut membuat jejak lingkungan AI mulai menjadi perhatian. Persoalannya bukan semata-mata berapa banyak air yang digunakan secara global, tetapi di mana pusat data dibangun dan apakah wilayah tersebut memiliki cadangan air yang cukup.
Sejumlah pusat data berada di wilayah yang menghadapi tekanan terhadap ketersediaan air. Kondisi ini berpotensi mempertemukan kebutuhan industri teknologi dengan kebutuhan masyarakat dan sektor lain yang juga bergantung pada sumber air.
Tidak Berarti Setiap Prompt Menghabiskan Air dalam Jumlah Sama
Konsumsi air AI tidak bisa disederhanakan menjadi satu angka untuk setiap pertanyaan. Besarnya penggunaan bergantung pada model, pusat data, sistem pendinginan, sumber listrik, lokasi dan efisiensi infrastrukturnya.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Patterns memperkirakan sistem AI dapat mengonsumsi sekitar 312,5 hingga 764,6 miliar liter air pada 2025, meski peneliti menekankan adanya keterbatasan data karena perusahaan teknologi belum sepenuhnya membuka penggunaan sumber daya khusus untuk AI.
Karena itu, angka 900 miliar liter yang muncul dalam sejumlah materi populer sebaiknya dipahami sebagai estimasi, bukan angka pasti untuk seluruh penggunaan AI.
Teknologi Perlu Lebih Hemat Sumber Daya
Pertumbuhan AI membuat kebutuhan terhadap pusat data semakin besar. Tantangannya adalah memastikan perkembangan tersebut tidak berlangsung dengan mengorbankan sumber daya yang semakin terbatas.
Penggunaan teknologi pendinginan yang lebih efisien, air daur ulang, sumber energi yang lebih bersih, serta keterbukaan perusahaan mengenai konsumsi air dan energi menjadi bagian penting dari upaya mengurangi jejak lingkungan AI.
AI memang berada di dunia digital. Namun, infrastruktur yang membuatnya bekerja tetap berdiri di dunia nyata—membutuhkan listrik, lahan, dan air.
Kemajuan teknologi akhirnya bukan hanya soal seberapa pintar AI bekerja, tetapi juga seberapa bijak manusia mengelola sumber daya untuk menjalankannya.