Kupang, Avis News — Ulah kontroversial kembali dipertontonkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di kancah geopolitik internasional.

Melalui akun media sosial Truth Social miliknya, Trump mengunggah sebuah gambar peta yang mencakup wilayah Meksiko, Kanada, Greenland, Islandia, hingga pulau-pulau di Karibia seperti Kuba dan Jamaika, yang seluruhnya diselimuti oleh bendera AS. Tindakan provokatif tersebut dilakukan tanpa menyertakan keterangan tertulis apa pun, memperkuat rangkaian manuver kontroversial yang sebelumnya telah berulang kali dilontarkan.

Jauh sebelum unggahan peta ambisius tersebut, Trump secara terbuka melontarkan usulan untuk mengubah nama negara bagian AS, New Mexico, menjadi "New America" dengan cara mencoret kata Meksiko pada sebuah gambar grafis. Pola penggantian nama sepihak ini bukan yang pertama kalinya; pada Januari 2025 lalu ia sempat mendorong perubahan nama Teluk Meksiko menjadi Teluk Amerika, serta menandatangani perintah eksekutif pada 27 Agustus 2026 untuk mengubah nama Danau Ontario di perbatasan AS-Kanada menjadi Danau Amerika di tengah memanasnya perang dagang.

LANGKAH PROVOKATIF DAN PERLAWANAN NEGARA TETANGGA

Aksi provokasi yang dilakukan Washington kontan memicu kemarahan besar dari para pemimpin negara tetangga yang kedaulatannya terusik.

Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengecam keras ulah Trump tersebut melalui pernyataan tegas di media sosial X. Ia menegaskan bahwa Meksiko bukanlah koloni atau wilayah protektorat negara asing mana pun.

"Di bulan peringatan Tanah Air kita ini, kita adalah negara yang bebas, merdeka, dan berdaulat," tandas Sheinbaum.

Sementara itu, Kanada yang kerap menjadi sasaran tekanan politik dan ekonomi Washington tidak tinggal diam. Perdana Menteri Kanada Mark Carney dengan tegas meminta pemerintahan Trump untuk menghentikan aksi sindiran di dunia maya dan kembali serius di meja perundingan.

Sebagai bentuk perlawanan nyata terhadap kebijakan proteksionis AS, Ottawa bersiap menaikkan tarif impor produk baja AS hingga 50 persen serta mengenakan bea masuk terhadap berbagai barang konsumsi asal Amerika seperti sepeda motor, kosmetik, dan keju yang diproduksi di negara bagian basis perdagangan seperti Michigan dan Ohio.

DIPLOMASI MEME ATAU ANCAMAN KEDAULATAN?

Di atas kertas, aksi-aksi teatrikal dan unggahan peta digital ala Trump kerap dianggap sebagai strategi psywar untuk menekan mitra dagang dalam meja perundingan ekonomi.

Tetapi bagi negara-negara tetangga di kawasan Amerika Utara, tindakan tersebut telah melewati batas candaan politik biasa.

Ketika seorang pemimpin negara adidaya mulai mencaplok wilayah dalam bentuk peta virtual dan mengubah nama teritorial tetangga secara sewenang-wenang, persoalannya bukan lagi sekadar urusan tawar-menawar tarif dagang.

Ini adalah ujian serius terhadap prinsip dasar hukum internasional mengenai kedaulatan dan kesetaraan antarnegara.

Sebab dalam tatanan global yang beradab, batas negara tidak bisa digambar ulang hanya berdasarkan ambisi sepihak atau lelucon digital di layar smartphone.